Bangkok Berjuang Mencegah Banjir

Kompas.com - 16/10/2011, 02:14 WIB

Bangkok, Sabtu - Thailand berjuang keras menghadapi banjir, yang juga sedang mengancam Bangkok. Air hujan dan pasang air laut menjadi hambatan besar pemerintah untuk melindungi warga di kota berpenduduk 12 juta jiwa itu. Sejauh ini Bangkok masih belum terendam parah.

Akan tetapi, ancaman kedatangan air akibat curah hujan di utara tetap mengancam. Banjir terjadi akibat curah hujan di atas normal. ”Kami harus coba melindungi zona ekonomi kami, termasuk Bangkok, Bandara Suvarnabhumi, kawasan industri, dan pusat-pusat evakuasi,” kata Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra di Bangkok, Sabtu (15/10).

Tumpukan karung berisi pasir dipasang di sepanjang sungai dan kanal-kanal yang menjadi sumber rembesan air yang mulai meluap. Petugas pemerintah berpacu dengan waktu untuk memperbaiki pintu-pintu air yang bocor pada Kamis (13/10) dan menyebabkan kepanikan di pinggiran utara Bangkok.

Air dengan ketinggian beberapa meter sudah terjadi di sejumlah wilayah di Bangkok dan memengaruhi aktivitas di sepertiga dari semua provinsi yang ada di Thailand. Banjir juga telah merusak lahan-lahan dan hasil pertanian, mengganggu kehidupan jutaan orang, serta menyebabkan 297 warga di seluruh Bangkok tewas akibat tersapu banjir.

Sebanyak 110.000 warga di seantero Thailand telah mengungsi dari rumah mereka dan bertahan di pusat-pusat penampungan. Wilayah utara Bangkok paling parah terendam air. Sejumlah pabrik tergenang air dan terpaksa menghentikan aktivitas. Selain itu, panenan juga rusak.

”Warga telah terganggu akibat banjir yang sudah berlangsung tiga bulan. Pemerintah memahami keadaan sulit yang menimpa warga dan kini kami mencoba melakukan upaya pengeringan air,” ungkap Yingluck, saudari kandung mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra.

PM beri perhatian besar

Yingluck mengatakan, genangan air yang menimpa Bangkok sekarang merupakan yang terbesar dan juga menyebabkan kerugian paling besar dalam sejarah Thailand. ”Namun, pemerintah tidak akan mengabaikan warga,” kata Yingluck.

Yingluck mencoba turun ke lapangan dan aktif mengomandoi upaya pencegahan banjir. Hal ini terkait dengan pamor politik keluarga Thaksin, yang disukai warga, tetapi rawan kecaman musuh-musuh politik atau elite Bangkok.

Sejumlah negara juga turut memberikan perhatian. China, Jepang, dan Amerika Serikat telah memberikan bantuan keuangan dan logistik untuk memperlancar upaya pertolongan. AS mengirimkan pesawat militer, yang khusus didatangkan dari Jepang, dengan membawa beribu-ribu karung untuk diisi tanah.

Kondisi di dalam Bangkok sendiri tidak terlalu parah, sebagaimana keadaan di utara Bangkok. Meski demikian, Bangkok kini waspada pada kemungkinan banjir besar yang diperkirakan terjadi pada 16-18 Oktober.

”Kami memperkirakan air akan meninggi pada 16-18 Oktober karena luapan air hujan makin besar dari wilayah utara yang diperburuk lagi oleh pasang air laut,” kata Worapat Tianprasit dari Departemen Irigasi Thailand di Bangkok, Sabtu.

Dia mengatakan, air di Sungai Chao Phraya yang juga melintasi Bangkok sudah meninggi ke level 2,27 meter di atas permukaan laut pada Sabtu pagi. Ketinggian ini sedikit lebih rendah dari yang diperkirakan. ”Jika air pasang tidak melampaui ketinggian 2,5 meter, jelas banjir akan terhindar,” kata Worapat.

Namun, pada Jumat malam, hujan deras telah menyebabkan banjir di pusat Bangkok. Meski demikian, otoritas mengatakan mereka bisa mengatasi keadaan di ibu kota berdataran rendah itu. ”Bangkok jelas tidak terpengaruh oleh banjir,” ungkap Menteri Kehakiman Pracha Promnog, yang mengetuai pusat-pusat penampungan, sehari sebelumnya.

Tumpukan-tumpukan karung pasir telah dipasang di depan rumah-rumah serta kantor-kantor bisnis dan pemerintah. Ini dilakukan untuk mencegah air banjir menyergap ibu kota. Sejumlah warga terpaksa memarkir kendaraan mereka di gedung parkir bertingkat.

Kekhawatiran akan keadaan banjir menyebabkan warga menumpuk persediaan air, makanan, dan lampu-lampu darurat. Otoritas telah memerintahkan petugas untuk coba membelokkan arah aliran air yang menuju Bangkok. (AP/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau