Akan tetapi, ancaman kedatangan air akibat curah hujan di utara tetap mengancam. Banjir terjadi akibat curah hujan di atas normal. ”Kami harus coba melindungi zona ekonomi kami, termasuk Bangkok, Bandara Suvarnabhumi, kawasan industri, dan pusat-pusat evakuasi,” kata Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra di Bangkok, Sabtu (15/10).
Tumpukan karung berisi pasir dipasang di sepanjang sungai dan kanal-kanal yang menjadi sumber rembesan air yang mulai meluap. Petugas pemerintah berpacu dengan waktu untuk memperbaiki pintu-pintu air yang bocor pada Kamis (13/10) dan menyebabkan kepanikan di pinggiran utara Bangkok.
Air dengan ketinggian beberapa meter sudah terjadi di
Sebanyak 110.000 warga di seantero Thailand telah mengungsi dari rumah mereka dan bertahan di pusat-pusat penampungan. Wilayah utara Bangkok paling parah terendam air. Sejumlah pabrik tergenang air dan terpaksa menghentikan aktivitas. Selain itu, panenan juga rusak.
”Warga telah terganggu akibat banjir yang sudah berlangsung tiga bulan. Pemerintah memahami keadaan sulit yang menimpa warga dan kini kami mencoba melakukan upaya pengeringan air,” ungkap Yingluck, saudari kandung mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra.
Yingluck mengatakan, genangan air yang menimpa Bangkok sekarang merupakan yang terbesar dan juga menyebabkan kerugian paling besar dalam sejarah Thailand. ”Namun, pemerintah tidak akan mengabaikan warga,” kata Yingluck.
Yingluck mencoba turun ke lapangan dan aktif mengomandoi upaya pencegahan banjir. Hal ini terkait dengan pamor politik keluarga Thaksin, yang disukai warga, tetapi rawan kecaman musuh-musuh politik atau elite Bangkok.
Sejumlah negara juga turut memberikan perhatian. China, Jepang, dan Amerika Serikat telah memberikan bantuan keuangan dan logistik untuk memperlancar upaya pertolongan. AS mengirimkan pesawat militer, yang khusus didatangkan dari Jepang, dengan membawa beribu-ribu karung untuk diisi tanah.
Kondisi di dalam Bangkok sendiri tidak terlalu parah, sebagaimana keadaan di utara Bangkok. Meski demikian, Bangkok kini waspada pada kemungkinan banjir besar yang diperkirakan terjadi pada 16-18 Oktober.
”Kami memperkirakan air akan meninggi pada 16-18 Oktober karena luapan air hujan makin besar dari wilayah utara yang diperburuk lagi oleh pasang air laut,” kata Worapat Tianprasit dari Departemen Irigasi Thailand di Bangkok, Sabtu.
Dia mengatakan, air di Sungai Chao Phraya yang juga melintasi Bangkok sudah meninggi ke level 2,27 meter di atas permukaan laut pada Sabtu pagi. Ketinggian ini sedikit lebih rendah dari yang diperkirakan. ”Jika air pasang tidak melampaui ketinggian 2,5 meter, jelas banjir akan terhindar,” kata Worapat.
Namun, pada Jumat malam, hujan deras telah menyebabkan banjir di pusat Bangkok. Meski demikian, otoritas mengatakan mereka bisa mengatasi keadaan di ibu kota berdataran rendah itu. ”Bangkok jelas tidak terpengaruh oleh banjir,” ungkap Menteri Kehakiman Pracha Promnog, yang mengetuai pusat-pusat
Tumpukan-tumpukan karung pasir telah dipasang di depan rumah-rumah serta kantor-kantor bisnis dan pemerintah. Ini dilakukan untuk mencegah air banjir menyergap ibu kota. Sejumlah warga terpaksa memarkir kendaraan mereka di gedung parkir bertingkat.
Kekhawatiran akan keadaan banjir menyebabkan warga menumpuk persediaan air, makanan, dan lampu-lampu darurat. Otoritas telah memerintahkan petugas untuk coba membelokkan arah aliran air yang menuju Bangkok.