Survei lsi

Boediono Penyebab Merosotnya SBY

Kompas.com - 16/10/2011, 15:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Lingkaran Survei Indonesia mengungkapkan, Wakil Presiden RI Boediono menjadi salah satu penyebab melemahnya politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kepemimpinannya selama dua tahun.

Dalam survei LSI pada Oktober 2011 tercatat, masyarakat yang puas terhadap kinerja Boediono membantu SBY hanya mencapai 39 persen. "Boediono seharusnya berfungsi sebagai 'gas' karena SBY adalah 'rem'. Namun, kenyataannya, Boediono juga menjadi 'rem'. Pemerintahan dinilai semakin lambat," ujar peneliti LSI, Ardian Sopa, di Gedung LSI, Jakarta Timur, Minggu (16/10/2011).

"Peran 'rem' Boediono menambah peran 'rem SBY dalam membuat keputusan. Di pemerintahan dirasakan semakin lambat," sambungnya.

Sebelumnya, pada Januari 2010, tepatnya saat 100 hari masa kepemimpinan SBY, sebanyak 53 persen masyarakat mengaku puas terhadap kinerja Boediono dalam membantu SBY. Penurunan terjadi pada Oktober 2010, yaitu 47,1 persen. "Sejak setahun pemerintahan, publik tak puas dengan kinerja Boediono. Publik selalu membandingkan Boediono dan Jusuf Kalla yang dianggap lebih determinan," lanjutnya.

Selain Boediono, kata Ardian, penyebab merosot SBY juga datang dari partai Demokrat yang menjadi kendaraan politiknya. Berbagai kasus korupsi yang melilit kader Demokrat mengakibatkan dukungan publik atas Demokrat menurun dari 32,6 persen pada Januari 2010 menjadi 16,5 persen pada Oktober 2011. "Ini karena petinggi Demokrat dililit kasus korupsi yang tak kunjung tuntas," katanya.

Rakyat, kata Ardian, menginginkan perubahan kepemimpinan SBY. Oleh karena itu, diharapkan SBY tidak terpengaruh oleh faktor-faktor pelemah yang dihadapi dalam masa pemerintahannya. "Publik merindukan SBY yang lebih tegas, tanpa kompromi, menyejahterakan rakyat, dan memberantas korupsi," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau