Tidak Benar Vitamin C Mencegah Flu

Kompas.com - 17/10/2011, 12:08 WIB

KOMPAS.com - Paling tidak enak ketika tubuh mulai terasa meriang, hidung bersin-bersin, dan kepala terasa seperti melayang. Ini dia tanda-tanda flu bakal mulai menyerang. Kalau sudah begini, banyak hal yang dilakukan orang. Dari menambah jam istirahat, makan lebih sehat, minum madu, dan yang paling umum dilakukan adalah mengonsumsi vitamin C.

Meskipun sudah lama diyakini mampu mencegah flu, dan orang sering menenggak vitamin C dosis tinggi begitu merasa gejala flu mulai terasa, berbagai studi klinis ternyata menunjukkan bahwa vitamin C tidak memberi pengaruh dalam hal pencegahan flu. Hanya saja, penelitian memang menunjukkan bahwa dosis 200 mg atau lebih (lebih dari dua kali lipat dosis 60-75 mg yang disarankan untuk orang dewasa) bisa sedikit membantu mengurangi durasi penyakitnya.

Kecenderungan ini pun berlainan pada setiap orang. Ada sebagian orang yang kondisinya membaik setelah mengonsumsi vitamin C, ada pula yang tidak. Para pakar juga mengatakan bahwa Anda boleh-boleh saja mengonsumsinya, namun batasi maksimal 2.000 mg saja per hari. Dosis lebih tinggi dari jumlah ini akan membuat perut terasa tidak nyaman.

Hal yang sama berlaku untuk permen obat batuk. Permen pedas ini juga membantu lamanya waktu Anda menderita flu. Dalam sebuah studi yang dimuat di Journal of Infectious Disease disebutkan, orang dewasa yang mengulum permen obat batuk (dosis 13,3 mg setiap dua atau tiga jam selama sakit berlangsung) dalam sehari ternyata sembuh sekitar tiga hari lebih cepat. Meskipun dosis tersebut melebihi jumlah asupan maksimal dalam sehari (40 mg), jumlahnya masih aman untuk periode tiga atau lima hari, demikian menurut penulis studi ini, Ananda Prasad, MD, PhD.

Para peneliti menduga bahwa seng (zinc) yang terdapat dalam permen obat batuk mengikat reseptor sel di dalam mulut dan tenggorokan, sehingga menghambat virus flu menyerang dan menyebar. Seng bisa ditemukan dalam banyak bentuk, namun hanya yang terdapat pada permen obat batuk yang terbukti efektif. Seng yang berasal dari makanan (seperti daing sapi, daging unggas hitam, dan kerang) diduga juga tidak banyak membantu, karena Anda tidak akan mendapatkan cukup banyak seng hanya dari konsumsi makanan tersebut sehari-hari.

Anda juga tak disarankan menggunakan semprotan hidung untuk melegakan hidung tersumbat, karena alat ini bisa merusak indera penciuman Anda.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau