"reshuffle" kabinet

Patrialis Sempat Tanyakan Alasan Dia Dicopot

Kompas.com - 17/10/2011, 16:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pada Minggu (16/10/2011) sekitar pukul 23.30, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar mengaku menerima kabar soal pencopotan dirinya dari Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi. Dengan nada berat dan haru, kata Patrialis, Sudi menyampaikan kabar itu.

"Dia bilang, saya termasuk menteri yang selesai melaksanakan tugas. Susah Pak Sudi bicaranya karena haru juga," kisah Patrialis yang ditemui di kantor Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jakarta, Senin (17/10/2011).

Kepada Sudi, Patrialis mengaku sempat menanyakan apa kesalahan yang dia perbuat selama ini. "'Kesalahan apa Pak Sudi?' saya tanya. 'Pak Patrialis tidak ada kesalahan apa-apa'. Kalau begitu syukur, karena saya mengerjakan tugas secara hormat," ucap politikus Partai Amanat Nasional itu.

Meskipun dicopot dari jabatannya, Patrialis mengaku tidak kecewa. Dia merasa bersyukur menjadi pembantu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama lebih kurang dua tahun ini.

"Saya terima dan salam hormat saya kepada Presiden. Tentu saya dua tahun bersama Presiden, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan beliau selama ini. Bagi saya, SBY adalah pemimpin terbaik saat ini, beliau bekerjanya siang malam, memberi arahan," tuturnya.

Patrialis juga mengatakan, dirinya telah berpamitan kepada para Dirjen Kemenhuk dan HAM pagi tadi. "Hampir seluruh pejabat eselon I saya menangis tersedu-sedu, saya tidak mengerti mengapa. Inilah persahabatan dan persaudaraan selama ini. Mereka berpuluh-puluh tahun bekerja di sini, baru merasa keharuan seperti ini," tukasnya.

Kepada para dirjennya, dia berpesan agar melanjutkan program Kementerian Hukum dan HAM serta menjalin kerja sama yang baik dengan wakil menteri dan menteri yang baru. Perombakan kabinet kali ini, kata Patrialis, merupakan keputusan yang terbaik. Patrialis menjadi salah satu menteri yang dicopot dari Kabinet Indonesia Bersatu II. Sebagai gantinya, ditunjuk Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat Amir Syamsuddin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau