JAKARTA, KOMPAS.com — Pada Minggu (16/10/2011) sekitar pukul 23.30, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar mengaku menerima kabar soal pencopotan dirinya dari Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi. Dengan nada berat dan haru, kata Patrialis, Sudi menyampaikan kabar itu.
"Dia bilang, saya termasuk menteri yang selesai melaksanakan tugas. Susah Pak Sudi bicaranya karena haru juga," kisah Patrialis yang ditemui di kantor Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jakarta, Senin (17/10/2011).
Kepada Sudi, Patrialis mengaku sempat menanyakan apa kesalahan yang dia perbuat selama ini. "'Kesalahan apa Pak Sudi?' saya tanya. 'Pak Patrialis tidak ada kesalahan apa-apa'. Kalau begitu syukur, karena saya mengerjakan tugas secara hormat," ucap politikus Partai Amanat Nasional itu.
Meskipun dicopot dari jabatannya, Patrialis mengaku tidak kecewa. Dia merasa bersyukur menjadi pembantu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama lebih kurang dua tahun ini.
"Saya terima dan salam hormat saya kepada Presiden. Tentu saya dua tahun bersama Presiden, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan beliau selama ini. Bagi saya, SBY adalah pemimpin terbaik saat ini, beliau bekerjanya siang malam, memberi arahan," tuturnya.
Patrialis juga mengatakan, dirinya telah berpamitan kepada para Dirjen Kemenhuk dan HAM pagi tadi. "Hampir seluruh pejabat eselon I saya menangis tersedu-sedu, saya tidak mengerti mengapa. Inilah persahabatan dan persaudaraan selama ini. Mereka berpuluh-puluh tahun bekerja di sini, baru merasa keharuan seperti ini," tukasnya.
Kepada para dirjennya, dia berpesan agar melanjutkan program Kementerian Hukum dan HAM serta menjalin kerja sama yang baik dengan wakil menteri dan menteri yang baru. Perombakan kabinet kali ini, kata Patrialis, merupakan keputusan yang terbaik. Patrialis menjadi salah satu menteri yang dicopot dari Kabinet Indonesia Bersatu II. Sebagai gantinya, ditunjuk Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat Amir Syamsuddin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang