Perombakan kabinet

Mengapa Mendiknas Harus Dibantu Dua Wakil?

Kompas.com - 17/10/2011, 16:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional Musliar Kasin untuk menempati jabatan baru sebagai Wakil Menteri Pendidikan Nasional. Sebelumnya, Menteri Pendidikan Nasional M Nuh telah didampingi seorang wakil, Fasli Jalal. Mengapa kementerian ini harus sampai memiliki dua wakil untuk membantu tugas-tugas sang menteri?

Menteri Pendidikan Nasional M Nuh menjelaskan, tambahan wakil menteri ini menyusul bertambahnya tugas setelah kementerian tersebut berganti nama menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dua wakil menteri itu masing-masing akan berbagi tugas dalam membidangi pendidikan dan kebudayaan. 

Menurutnya, ada beberapa alasan yang memaksa kementeriannya harus memiliki dua wakil menteri. Selain banyaknya pekerjaan yang harus ditangani, juga sangat terkait dengan semangat untuk memanfaatkan bonus demografi (puncak penduduk berusia produktif).

Ia memberikan contoh, orang-orang di daerah, menurutnya, tidak akan merasa puas jika para pimpinan tertingginya belum pernah berkunjung dan melihat secara langsung kondisi yang ada di daerah. Misalnya,  ketika akan mengunjungi sebuah sekolah di salah satu kabupaten/kota, setidaknya memerlukan waktu sekitar dua tahun untuk mengunjungi sekolah di semua kabupaten/kota.

"Jika kita hitung dengan 500 kabupaten/kota, setiap hari kita kunjungi itu tidak akan selesai dalam setahun," kata Nuh, Senin (17/10/2011), di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta.

Ia mengungkapkan, pembangunan pendidikan tidak cukup dibangun secara virtual, tetapi juga harus membangun rasa dan kedekatan dengan terjun langsung dan melihat kondisi di daerah. Oleh karena itu, kata dia, siapapun yang akan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, maka yang harus diperbanyak adalah mengunjungi daerah secara langsung.

"Agar mengetahui persoalan yang ada di sana, karena sudah memiliki dua wakil," ujarnya.

Selain itu, kata Nuh, penambahan wakil menteri untuk mengoptimalkan pemanfaatan bonus demografi yang berlangsung sejak akhir 2009 sampai tahun 2035. Menurutnya, amat disayangkan jika bonus demografi tersebut tidak dimanfaatkan dan dikelola secara total.

"Mumpung masih awal dari bonus demografi, sekaligus mengintegrasikan antara sains dengan kultur, dan pembangunan bangsa," kata Nuh.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau