4 Kesalahan Terbesar Pasangan soal Uang

Kompas.com - 17/10/2011, 18:39 WIB

KOMPAS.com — Masalah uang masih menjadi sumber pertengkaran, bahkan penyebab rusaknya hubungan pernikahan.

Terapis pernikahan dan coach keuangan, Olivia Mellan, menilai masalah keuangan dalam hubungan berpasangan biasanya dipicu oleh sejumlah keadaan, bahkan perbedaan kepribadian. Sebagai contoh, pribadi hemat yang menikah dengan individu boros atau pribadi yang selalu khawatir soal uang menikah dengan si cuek yang tak suka atau bahkan enggan memikirkan membicarakan keuangan.

Mellan mengungkapkan empat masalah keuangan pasangan sekaligus menawarkan solusi jika Anda juga mengalaminya bersama pasangan.

1. Tak mau membicarakan soal uang.

Sikap menunda komunikasi menimbulkan banyak masalah, termasuk soal uang. Percakapan mengenai uang menjadi lebih minim atau bahkan semakin jauh dari hubungan.

Solusi: Jika Anda berencana menikah, sebaiknya sebelum tinggal bersama dan mencampurkan semua pengeluaran, biasakan untuk mendiskusikan beberapa hal krusial soal keuangan. Sebagai contoh, berapa banyak utang dari setiap individu. Dengan demikian, saat nanti menikah, Anda dan dia akan lebih mudah mengaturnya. Pembicaraan mengenai keuangan sebelum menikah juga meliputi kebiasaan masa lalu setiap individu dalam mengatur uang.

Bicarakan juga mengenai pembagian pembayaran kebutuhan rumah tangga. Bagi presentasi pembayaran dari pengeluaran rutin bulanan. Anda dan pasangan juga perlu menentukan apakah perlu membuka rekening bersama atau cukup dengan rekening masing-masing.

Berbicara mengenai keuangan perlu dijadikan kebiasaan berkala oleh pasangan. Duduk bersama di satu meja untuk mengatur dan merencanakan keuangan bersama penting dilakukan. Anda dan pasangan perlu membuat rencana keuangan jangka pendek, menengah, dan panjang.

2. Menyimpan uang di tempat rahasia.
Anda atau pasangan punya kebiasaan ini? Menyimpan uang diam-diam di tempat rahasia atau merahasiakan barang baru yang Anda beli dari pasangan?

Solusi: Sebenarnya Anda tak perlu merahasiakan apa pun dari pasangan, apalagi orang yang Anda pilih sebagai istri atau suami. Solusinya, jangan pernah mencampurkan pendapatan Anda dan pasangan. Berikan kebebasan kepada pasangan untuk membelanjakan uangnya sendiri.

"Pasangan tak perlu menggabungkan semua uangnya," saran Mellan. Dia menambahkan, menggabungkan uang hanya diperlukan pasangan saat harus membayar pengeluaran rutin rumah tangga.

Karena itu, buatlah daftar pengeluaran yang harus dibayarkan berdua dengan pasangan dan pisahkan kebutuhan belanja personal untuk dibayarkan setiap individu.

3. Tak punya anggaran.
Tak adanya anggaran dalam rumah tangga justru menimbulkan masalah keuangan.

Solusinya: Buat anggaran keuangan atau belanja yang disepakati pasangan. Anggaran ini justru membantu pasangan untuk membayar utang atau justru menghindari utang. Utang merupakan salah satu sumber pertengkaran soal uang pada pasangan.

Dengan adanya anggaran, pasangan bisa merencanakan membeli mobil, rumah, atau bahkan memiliki anak lagi dan menyiapkan pensiun. Pasangan menikah juga perlu menganggarkan uang untuk dana darurat keluarga.

4. Tak merasa perlu menyiapkan warisan.
Anda dan pasangan perlu menyiapkan berbagai kondisi terkait dengan keuangan. Soal asuransi jiwa, misalnya, tentukan bersama pasangan mengenai siapa yang akan menerima manfaatnya. Jika tidak, uang yang telah Anda persiapkan jatuh ke tangan yang seharusnya tak tepat menerima manfaat jika Anda atau pasangan meninggal, misalnya.

Anda dan pasangan perlu membicarakan harapan pada masa mendatang jika terjadi sesuatu terhadap Anda atau pasangan. Uang yang telah Anda kumpulkan, baik dari asuransi maupun dana pensiun, ingin dikelola oleh siapa dan untuk kepentingan apa. Topik ini harus  segera Anda bicarakan dengan pasangan sebagai langkah antisipasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau