Reshuffle kabinet

Duet Amir-Denny Gardan Ganda

Kompas.com - 18/10/2011, 16:51 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Duet Amir Syamsuddin dengan Denny Indrayana di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemhuk dan HAM) merupakan kombinasi praktisi dan akademisi yang bagus. Namun, kemungkinan akan mendapat perlawanan sengit dari parlemen.

Demikian pandangan Deddy Prihambudi, mantan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya, Selasa (18/10/2011) di Surabaya, Jawa Timur.

Amir, pengacara kondang dan Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat hampir pasti menjadi Menkumham menggantikan Patrialis Akbar. Sedang Denny menjadi pejabat baru wakil menteri.

Menurut Deddy, Patrialis layak diganti karena rapor kementerian yang dia pimpin selama ini merah walau sebenarnya bukan semata kesalahan Patrialis.

Banyak agenda lama di kementerian itu yang tidak terselesaikan. Misalnya, nasib WNI di luar negeri, kondisi narapidana dan tahanan, problem cegah dan tangkal yang selalu terlambat, remisi bagi koruptor yang tidak sesuai dengan prinsip kepentingan publik, dan pola pembaruan hukum yang tidak jelas.

"Amir dan Denny tampaknya dibikin double gardan. Amir adalah praktisi hukum seperti Patrialis, namun belum punya pengalaman di parlemen. Denny adalah sosok akademisi andal. Keduanya jelas representasi Cikeas," kata Deddy.

Ia mengetakan, pasangan ini tidak akan bisa enak-enakan, khususnya menghadapi parlemen. "Amir akan dicecar dengan isu-isu politik dan hukum ala DPR, sedangkan Denny akan dikejar soal kedekatannya dengan aktivis kritis. Denny dengan akademisnya yang kental kurang cocok dengan selera parlemen," katanya.

Tekanan terhadap Amir/Denny akan menjadi ringan, menurut Deddy, jika Ketua Komisi III Benny Kaharman mampu membantu mereka. Amir dan Denny juga harus mampu membuka komunikasi dengan puluhan advokat dan akademisi hukum yang kini ada di parlemen.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau