Nenek Moyang Manusia Punya Indra Keenam

Kompas.com - 19/10/2011, 23:20 WIB

KOMPAS.com - Manusia memiliki panca indra, tetapi nenek moyang kita memiliki indra keenam yakni kemampuan untuk mendeteksi medan listrik di dalam air untuk memburu mangsa dan berkomunikasi. Kesimpulan ini merupakan hasil studi yang dilakukan oleh sejumlah peneliti asal Amerika Serikat, yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications.

Menurut para peneliti, sekitar 30 ribu spesies hewan darat dan manusia merupakan keturunan dari satu nenek moyang yang memiliki sistem elektroreseptif yang berkembang sangat baik. Nenek moyang ini diperkirakan merupakan seekor ikan predator yang memiliki penglihatan baik, rahang dan gigi yang kuat serta sistem gurat lateral untuk mendeteksi pergerakan air. Sistem ini tampak seperti garis yang berada di sisi milik ikan-ikan saat ini seperti hiu, yang juga memiliki indra keenam tersebut.

"Makhluk yang hidup sekitar 500 juta tahun ini merupakan nenek moyang bagi sebagian besar dari 65 ribu makhluk hidup vertebrata darat dan hewan laut lainnya," kata Willy Bemis, evolutionary biologist dari Cornell University yang melakukan penelitian.

Sejumlah vertebrata darat, termasuk salamander seperti axolotl Meksiko (Ambystoma mexicanum) yang terncam punah, memiliki elektroreception tersebut. Namun adaptasi terhadap kehidupan di darat telah membuat reptil, mamalia, dan burung kehilangan indra electrosense tersebut. (National Geographic Indonesia/Abiyu Pradipa)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau