Hayom Belum Konsisten

Kompas.com - 20/10/2011, 03:25 WIB

Odense, Kompas - Gelar juara di Grand Prix Gold Indonesia Open, di Samarinda awal Oktober 2011, belum bisa menjadi modal bagi Dionysius Hayom Rumbaka untuk berlaga di Premier Super Series Denmark Open. Pebulu tangkis tunggal putra pelatnas ini tersingkir di babak pertama.

Pada pertandingan di Odense Sport Park, Rabu (19/10), Hayom takluk di tangan pemain Jepang Sho Sasaki. Pemain klub Djarum Kudus ini kalah dua gim langsung 20-22, 12-21. Buat Hayom, ini kekalahan yang kedua dari dua kali pertemuan dengan pemain kidal berkepala plontos ini. Sebelumnya Hayom kalah di turnamen Super Series Singapura Terbuka, Juni lalu.

Kekalahan Hayom dari Sasaki tidak lepas dari inkonsistensi dia dalam menjaga ritme permainan. Di awal gim pertama, Hayom main agresif dan berani memotong bola Sasaki di depan net. Sasaki seperti kelabakan karena permainan cepat Hayom tak memberi kesempatan baginya untuk mengembangkan permainan. Hayom unggul cepat 11-6.

Sayangnya, setelah jeda istirahat Hayom justru mengendurkan permainan. Momen ini dimanfaatkan dengan baik oleh Sasaki yang berkali-kali menghujani Hayom dengan smes keras. Sasaki yang berada di peringkat sembilan dunia ini pun mampu mengejar dan menyamakan skor menjadi 13-13. Setelah susul-menyusul angka, Sasaki meraih match point dengan unggul 20-18.

Hayom masih bisa mengejar sehingga menjadi 20-20. Sayangnya, saat kritis itu Hayom kembali membuat kesalahan yang membuatnya kalah 20-22.

Di gim kedua, Sasaki semakin percaya diri. Agus Dwi, pelatih tunggal putra pelatnas Cipayung, berkali-kali berteriak dari tepi lapangan untuk membangkitkan permainan Hayom. Namun, upaya Agus belum cukup membantu, dan Hayom pun kalah lebih mudah 12-21. ”Momentumnya sebenarnya di gim pertama. Kalau saja Hayom bisa ambil, hasilnya bisa lain,” kata Agus.

Hayom yang ditemui seusai pertandingan juga tak mampu menutupi kekecewaannya. Sambil mengusap keringat, Hayom mengatakan, seharusnya dia lebih berani dan tidak terlalu bermain hati-hati di gim pertama. ”Ya, kecewa juga karena sebenarnya bisa,” kata Hayom.

Hasil positif didapat dua pemain tunggal putra lainnya, Simon Santoso dan Tommy Sugiarto. Simon melaju ke babak kedua setelah sukses mengalahkan pemain Taiwan Hsueh Hsuan Yi 21-16, 21-5. Sementara Tommy menaklukkan perlawanan pemain India Ajay Jayaram 21-11, 21-16. Di babak kedua, Simon kemungkinan menghadapi pemain China Chen Long, sedangkan Tommy kemungkinan melawan Chen Jin.

Kemenangan juga didapat ganda campuran Debby Susanto/Muhammad Rijal. Pasangan Cipayung ini menang tiga gim atas pemain Jepang Hirokatsu Hashimoto/Mizuki Fujii 18-21, 21-13, 21-19. Sayangnya, langkah mereka tidak diikuti pasangan Fran Kurniawan/Pia Zebadiah yang dikalahkan pemain Korea Selatan Ko Sung-hyun/Eom Hye-won 14-21, 16-21.

Penawaran Denmark

Sementara itu, di sela-sela turnamen, Direktur Federasi Badminton Denmark Charlotte Malmroes mengumumkan pengajuan Denmark sebagai tuan rumah untuk Kejuaraan Dunia 2013 dan 2014. Untuk mengampanyekan pengajuan itu, Federasi Badminton Denmark akan mempresentasikan semua persiapan, dari infrastruktur sampai program-program lainnya, ke Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).

Menurut Charlotte, pihaknya sangat menginginkan jadi tuan rumah untuk menjalankan misi lain yakni mengangkat pamor dan nilai jual bulu tangkis di Denmark, juga di kawasan Eropa. Namun, untuk 2013, Denmark akan bersaing ketat dengan China yang mengajukan Guangzhou dan Makau. ”Ya, kita akan bersaing dengan mereka. Kami telah mempersiapkan stadion di kota Kopenhagen,” kata Charlotte.

Jika Denmark terpilih, ini akan menjadi yang kedua kalinya kejuaraan dunia digelar di Denmark. Sebelumnya, mereka pernah menjadi tuan rumah pada 1999. Untuk tahun depan, kejuaraan dunia ditiadakan sehubungan dengan adanya olimpiade musim panas yang akan digelar di London. (Gatot Widakdo dari Odense, Denmark)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau