15 Tahun Lagi, Perdagangan Indonesia Tumbuh 144 Persen

Kompas.com - 20/10/2011, 13:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Laporan HSBC Trade Connection Report 2011 menyebutkan, Indonesia merupakan salah satu dari empat negara berkembang di Asia, selain India, Vietnam, dan China, yang akan mengalami pertumbuhan perdagangan tertinggi sampai dengan 2025. Empat negara Asia ini masuk dalam lima besar negara di dunia yang diperkirakan akan mengalami pencapaian tersebut.

Indonesia sendiri berada di peringkat keempat, setelah Mesir, India, dan Vietnam. Dalam laporan yang bersumber salah satunya dari HSBC Trade Forecast ini, rata-rata pertumbuhan volume perdagangan Indonesia sebesar 7,3 persen per tahunnya. Bahkan, dalam 15 tahun ke depan, total pertumbuhan perdagangan Indonesia diperkirakan naik sebesar 144 persen. Pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspor komoditas.

Prediksi pertumbuhan perdagangan Indonesia ini sejalan dengan optimisme pelaku perdagangan antarnegara. Menurut survei HSBC TCI, pada semester kedua tahun ini, optimisme eksportir dan importir Indonesia naik 21 poin ke level 144. Hasil survei itu menjadikan pelaku perdagangan Indonesia paling optimistis di antara 21 negara di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, Amerika, dan Eropa yang dijadikan sample.

"Tingkat optimisme dari pelaku perdagangan pada survei kali ini tidak hanya naik secara signifikan, tetapi juga menjadikan eksportir dan importir Indonesia memiliki optimisme tertinggi," ujar Nirmala Salli, Head of Trade HSBC Indonesia, dalam pernyataan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (20/10/2011).

Menurut Nirmala, tren ini penting untuk dicermati karena berdampak terhadap kebutuhan pelaku usaha terhadap akses finansial perdagangan. Sebab, lanjutnya, seiring dengan optimisme naiknya volume perdagangan, membaiknya kualitas supplier dan buyer, serta kepercayaan terhadap stabilitas nilai tukar dan regulasi, pelaku bisnis percaya diri untuk meluaskan ekspansi keluar negeri. Dan, ekspansi ini tentunya akan membutuhkan tambahan modal.

"Kesiapan sektor perbankan diperlukan dalam mendukung hal ini," ujar Nirmala.

Meskipun pelaku pasar percaya terhadap stabilitas nilai tukar dan regulasi, kedua hal ini juga bisa menjadi tantangan utama di tengah optimisme pelaku perdagangan internasional. Menurunnya permintaan terhadap produk juga termasuk kendala utama yang kian dikhawatirkan pelaku bisnis. Dengan tingkat pertumbuhan perdagangan 7,3 persen per tahunnya, Indonesia akan menyumbang 1,3 persen terhadap volume perdagangan internasional dalam 15 tahun ke depan.

Selain itu, pada tahun 2025 nilai perdagangan Indonesia diprediksi akan naik menjadi 619,6 miliar dollar AS dari 280,4 miliar dollar AS pada tahun 2010.

Perdagangan Indonesia dengan negara berkembang terus tumbuh

Sementara itu, menurut indeks HSBC TCI, pelaku bisnis masih melihat China dan ASEAN sebagai mitra utama perdagangan Indonesia saat ini dan dalam enam bulan ke depan. Jerman juga dipandang sebagai negara dengan prospek perdagangan yang positif.

Bagi para importir, mitra utama para pelaku bisnis adalah China, Singapura, Jepang, Amerika Serikat, dan Malaysia. Sedangkan Jepang, China, Amerika Serikat, Singapura, dan Korea merupakan mitra utama eksportir Indonesia.

Selain itu, berdasarkan HSBC Trade Forecast, dalam jangka waktu 5-10 tahun ke depan, perkembangan perdagangan Indonesia dengan negara-negara berkembang lainnya akan semakin signifikan. Ada beberapa koridor perdagangan yang memiliki tingkat pertumbuhan paling signifikan, yaitu perdagangan Indonesia dengan China, Argentina, Rusia, Mesir, India, Ceko, Hongkong, Meksiko, dan Brasil.

Untuk diketahui saja, HSBC Trade Connection Report 2011 merupakan gabungan dari HSBC TCI yang menangkap optimisme pelaku perdagangan internasional dan HSBC Trade Forecast yang merupakan prediksi dari pertumbuhan perdagangan pada 5, 10, hingga 15 tahun ke depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau