KOMPAS.com — Yunani masih berjuang keras untuk menuntaskan krisis. Menurut warta AP dan AFP pada Kamis (20/10/2011), seusai bentrokan antara pengunjuk rasa melawan aparat keamanan di luar gedung parlemen, para anggota parlemen melakukan pemungutan suara.
Alhasil, ada perbandingan 154 versus 141 antara pendukung kebijakan penghematan baru melawan penentang. Hal itu berarti, Yunani akan menerapkan kenaikan pajak baru, pemotongan gaji, serta pemberhentian pegawai layanan umum.
Sejatinya, Uni Eropa (UE) dan Dana Moneter Internasional (IMF) menuntut Yunani merealisasikan kebijakan pengetatan ekonomi sebagai syarat mendapat dua paket bantuan darurat. Pelbagai kalangan di UE sendiri cemas kalau krisis utang Yunani merembet ke negara-negara lain.
Nasional
Sudah bisa dipastikan, warga Yunani banyak yang menolak kebijakan penghematan itu. Mereka menggelar aksi mogok nasional selama 48 jam. Ibu kota Yunani, Athena, pun lumpuh.
Tak cuma itu, dua serikat buruh utama di sektor pelayanan umum dan perusahaan swasta juga menjadi motor penggerak unjuk rasa. Maka dari itu, baik kantor-kantor pemerintah, swasta, maupun pertokoan tutup. Sementara pengusaha kecil dan penjaga toko ikut ambil bagian dalam aksi mogok ini.
Petugas menara penerbangan pun ikut melakukan aksi mogok selama 12 jam. Makanya, kemarin, sekitar 150 penerbangan domestik dan internasional dibatalkan. Layanan kereta, bus, dan taksi terhenti di Athena.
Dalam beberapa pekan belakangan, unjuk rasa di seluruh Yunani meningkat dan serikat-serikat buruh mengatakan bahwa unjuk rasa kali ini merupakan yang terbesar sepanjang 2011. Unjuk rasa itu akhirnya berakhir dengan bentrokan tadi.