Jumat (14/10) pukul 15.00 ditemukan mayat perempuan berusia 35-40 tahun di dalam kardus televisi di Jalan Kurnia Gang D, RT 7 RW 17, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara. Mayat dibungkus seprai bermotif bunga merah. Mayat hanya memakai kutang hitam. Di dalam kardus juga ditemukan foto anak laki-laki berseragam siswa sekolah dasar.
Ciri-ciri mayat itu adalah kulit kuning langsat, tinggi lebih dari 155 sentimeter, dan rambut panjang terurai sepunggung atas. Korban mengenakan anting merah.
Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Gatot Edi Pramono, Minggu (16/10), mengatakan, korban sedang hamil tiga pekan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan para saksi, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Irwan Anwar menduga pelaku seorang diri. Pelaku naik sepeda motor saat membuang kardus.
Irwan memperkirakan, korban meninggal 12 jam sebelum ditemukan. Dugaan diperkuat rekaman kamera pemantau (CCTV) yang dipasang di anjungan tunai mandiri BNI.
Di tempat lain, Sabtu (15/10) pukul 17.00, ditemukan mayat perempuan seusia siswi SD di dalam koper gelap bermerek Polo di Cakung Barat, RT 01 RW 04, Cakung, Jakarta Timur. Panjang koper 50 cm dan lebar 38 cm.
Luka pada jenazah menunjukkan, ia korban pelaku paedofil (ketertarikan seksual orang dewasa pada anak berusia 12 tahun ke bawah).
Di dalam koper juga ada daster merah, kelambu abu-abu, piyama, handuk merah muda, dan celana pendek loreng krem-coklat. Ada kartu nama Safrudin yang beralamat kantor di Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Kepala Bagian Humas Polres Metro Jakarta Timur Komisaris Didik, Senin (17/10), menduga korban tewas dua hari sebelum jenazahnya ditemukan. Itu berarti korban dibunuh hari Kamis (13/10).
Dua kasus pembunuhan ini diduga dilakukan seorang pria. Alasannya, pola pembuangan mayat dan penyesatan sama.
Pola pembuangan mayat sama karena setiap mayat diletakkan dalam wadah lalu dibungkus kain (seprai bermotif bunga dan kelambu abu-abu) meskipun dibuang di tempat berbeda.
Pola penyesatan pun sama ”bodohnya”. Pelaku berniat menyesatkan penyidik seolah-olah kedua kasus ini terpisah.
Caranya? Di dalam kardus berisi mayat perempuan dewasa diletakkan foto anak laki-laki berusia SD, sedangkan di dalam koper berisi bocah perempuan, pelaku meletakkan kartu nama Safrudin.
Pelaku hendak mengesankan, perempuan dewasa meninggalkan seorang anak laki-laki, sedangkan siswi SD ada hubungannya dengan kartu nama yang ditinggalkan.
Pelaku berniat mengacaukan penyidik dengan membuang mayat kardus dulu baru mayat koper. Padahal, saat ditemukan, kondisi mayat kardus lebih baru ketimbang kondisi mayat di dalam koper.
Tindakan bodoh dan sikap pelaku yang ekshibisionis ini membuat penyidik lebih mudah mengungkap kasus itu. Apa yang dilakukan pelaku sekaligus menunjukkan, pelaku bukan pembunuh ulung atau psikopat. Temuan di lapangan juga menunjukkan, kedua korban ataupun pelaku berasal dari lingkungan sosial ekonomi bawah.
Kedua kasus diduga berhubungan. Mayat di dalam kardus dan mayat di dalam koper bisa jadi ibu dan anak.
Pelaku punya hubungan dengan ibu dan anak. Si anak yang mendapat perlakuan seksual brutal pelaku mengadu kepada ibunya. Si ibu marah kepada pelaku. Lalu pelaku marah kepada si anak dan membunuhnya.
Si ibu curiga karena anaknya tidak tampak dan menuduh pelaku bertanggung jawab. Pelaku naik pitam. Si ibu pun dibunuh.
Bila terungkap, mungkin kisah sebenarnya tak seutuh kisah di atas tetapi setidaknya ”mendekati”.
Apa tanggapan Kepala Subdirektorat Kejahatan dengan Kekerasan Ditreskrimum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Helmy Santika terhadap dugaan ini? ”Polisi juga menduga seperti itu (dua kasus, satu pelaku). Oleh karena itu, polisi berniat memeriksa DNA (deoxyribonucleic acid),” tuturnya.
Sebelum melakukan tes DNA dari kedua mayat, polisi juga melakukan otopsi untuk memastikan dulu bahwa mayat dalam kardus pernah melahirkan anak. Hasil otopsinya ternyata positif.
”Kini tinggal menunggu hasil DNA kedua mayat,” kata Helmy.
Mengamati kuatnya kemampuan reserse di tingkat Polda Metro, dua-tiga hari setelah hasil DNA dilakukan bakal mampu mendeteksi siapa pelaku pembunuhan sadis ini, apakah dua kasus ini pembunuhnya tunggal atau berbeda.
Kita berharap polisi juga dapat membekuk pelakunya, berapa pun jumlahnya. Semoga. (WINDORO ADI)