Kena Kanker, Payudara Pasti Diangkat?

Kompas.com - 21/10/2011, 14:46 WIB

KOMPAS.com — Kanker payudara sampai saat ini masih menjadi momok bagi perempuan. Bukan hanya karena keganasannya, melainkan didiagnosis menderita penyakit ini berarti harus kehilangan payudara di meja operasi. Padahal, jika ditemukan pada stadium dini, keindahan payudara bisa dipertahankan.

Operasi pengangkatan jaringan, menurut dr Saptadi Setia Basuki, Sp.B.Onk, merupakan prosedur utama dalam kasus kanker yang padat seperti kanker payudara. "Operasi merupakan standar terapi kanker payudara di seluruh dunia," katanya di sela acara seminar "Deteksi Dini, Kunci Pencegahan dan Penanganan Kanker Payudara" yang diadakan oleh GE Indonesia di Jakarta, Jumat (21/10/11).

Akan tetapi, saat ini tersedia pilihan pembedahan jaringan kanker dengan mempertahankan payudara atau breast conserving surgery (BCS). Melalui tindakan ini, area sekitar payudara seperti puting dan aerola bisa dipertahankan.

Dijelaskan oleh Saptadi, BCS hanya bisa dilakukan jika ukuran sel kankernya tidak lebih dari 3 sentimeter. "Jika ukuran lebih dari itu berarti tumornya sudah banyak sehingga tidak dimungkinkan. Selain itu, proporsi payudara juga memengaruhi. Artinya, jika ukuran payudaranya kecil maka jika tumornya sudah sebesar 3 sentimeter, berarti jaringan sehatnya sedikit. Maka, ia tidak masuk kategori," papar ahli bedah kanker dari RSPAD Gatot Soebroto Jakarta ini.

Selain ukuran tumor, BCS juga bisa dilakukan jika tumornya berada di bagian tepi serta letaknya terisolasi. Meski begitu, jika pasien terpaksa menjalani masektomi atau pengangkatan payudara, pasien bisa melakukan rekonstruksi payudara dengan implan untuk membentuk kembali payudara. Hal ini dilakukan untuk mengembalikan rasa percaya diri pasien.

Agar ukuran tumor bisa dideteksi di ukuran yang masih kecil, maka melakukan pemeriksaan payudara wajib dilakukan. "Kanker bisa disembuhkan asalkan ditemukan di stadium awal dan dilakukan terapi pengobatan yang tepat," imbuhnya.

Sayangnya, menurut Saptadi, kebanyakan pasien baru datang ke dokter saat tumornya sudah menyebar dan berada di stadium lanjut. "Banyak pasien yang takut disuruh operasi lalu mencari pengobatan alternatif sehingga tumornya sudah menyebar ke mana-mana dan terlambat untuk diobati," katanya.

Pasien kanker payudara yang terlambat menyadari pertumbuhan sel kankernya pilihannya menjadi terbatas. "Jika sudah stadium lanjut maka sebelum operasi harus dilakukan radiasi dan kemoterapi dulu supaya tumornya mengecil," katanya.

Pada stadium 3, tingkat kesembuhan pasien hanya mencapai 50 persen. Sementara itu, di stadium 4 terapi yang utama adalah paliatif untuk mengurangi nyeri dan memberikan dukungan kepada pasien. "Di stadium lanjut terapinya bukan kuratif, tapi meningkatkan kualitas hidup pasien agar rasa sakitnya berkurang," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau