Parkir On Street, 60 Persen Badan Jalan Tersita

Kompas.com - 21/10/2011, 17:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Parkir on street menjadi salah satu penyebab kemacetan, lantaran sekitar 60 persen badan jalan ditempati oleh kendaraan yang enggan parkir di dalam gedung. Untuk itu, penertiban parkir on street harus semakin digalakkan.

"Parkir on street menyita 60 persen badan jalan, sehingga menjadi salah satu sebab kemacetan," kata Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), Azas Tigor Nainggolan, di Jakarta, Jumat (21/10/2011).

Menurutnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga harus menghapuskan parkir gratis, jika serius ingin membuat Jakarta tak macet lagi. Dengan penekanan seperti ini, pengguna kendaraan pribadi akan terus meminta perbaikan sarana angkutan umum.

"Moda transportasi massal akan dibenahi juga agar masyarakat mau berpindah ke angkutan massal jika tarif parkir naik dan parkir on street mulai digalakkan," ungkapnya.

Sebenarnya penerapan parkir off street sudah berlangsung sejak 20 Juni silam. Namun pada kenyataannya, penerapannya tidak menunjukkan hasil yang signifikan karena masih banyak kendaraan yang parkir di badan jalan, bahkan dipaksakan parkir di atas trotoar.

Sebelumnya diberitakan bahwa di kawasan Gajah Mada-Hayam Wuruk disediakan delapan gedung parkir dalam gedung yakni Komplek Duta Merlin, Gedung Pelni, Gajah Mada Plaza, Hotel Grand Paragon, Lindeteves Trade Centre dan Hayam Wuruk Plaza.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau