Jakarta, Kompas -
”Aplikasi ketiga hak paten teknologi itu sudah masuk produksi komersial,” kata Kepala PLN Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Hadi Parmono, dalam konferensi pers Forum Inovasi dan Pengembangan Teknologi Knowledge, Norm Discussion Forum, Innovation Contest, Festival and Exhibition (KNIFE) di Jakarta, Jumat (21/10).
Hadi mengatakan, semua temuan teknologi yang sudah dipatenkan itu berupa rekayasa robotik untuk aktivitas pembersihan instalasi jaringan menengah dan tinggi. Sebanyak 14 temuan lain masih dalam proses uji substansi paten.
”Temuan teknologi hasil litbang cukup banyak, tetapi yang berhasil dipatenkan masih sedikit,” kata Hadi.
Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi Bidang Energi Terbarukan Agus Rusyana Hoetman menjelaskan bahwa saat ini pengembangan energi terbarukan diprioritaskan pada sumber energi geotermal, air, dan batu bara bersih. ”Prioritas kebijakan energi untuk menjaga kemandirian,” ujar dia.
Sekarang ini, produksi listrik PT PLN mencapai 35 gigawatt (GW). Tahun 2025, untuk wilayah Jawa, Madura, dan Bali diprediksi butuh penambahan kapasitas listrik 115 GW yang akan dipenuhi dengan geotermal sebesar 20 GW, air 4 GW, dan batu bara dengan teknologi bersih.
”Kekurangan pasokan listrik masih tetap tinggi sehingga tetap direncanakan dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN),” tutur Agus.