Pengamanan presiden

Tukang Kebun Nyoman seperti Hilang

Kompas.com - 25/10/2011, 15:48 WIB

JIMBARAN, KOMPAS.com Tukang kebun BTDC Nusa Dua, Nyoman Minta, benar-benar seperti hilang. Rumahnya di Jalan Taman Ayodya, Banjar Celuk, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, sepi. Hanya ada dua nenek yang mengaku tak tahu di mana Nyoman Minta. Ada pula Kadek, lelaki remaja, yang juga bilang tak kenal Minta.

Padahal, mereka tinggal di alamat yang sama dengan Minta. Ketika Kompas sampai, saat itu pukul 15.00 Wita. "Kami tidak kenal dengan Minta. Tidak ada yang namanya Minta di sini," kata Kadek saat ditanya. Beberapa tetangganya pun bungkam.

Setelah hampir satu jam menunggu, seorang tetangga Minta yang bernama Made akhirnya mau berbicara. "Maaf, iya ini rumah Minta. Saya takut soalnya tadi. Semalam, saya juga ditanya ini-itu sama polisi," katanya.

Hingga sore ini, Kepala Kepolisian Sektor Kuta Selatan Komisaris Dedi Udiyana tak bersedia mengangkat telepon genggamnya. Bahkan di kantornya pun dia tidak ada.

Menurut petugas Polsek Kuta, sejak pagi Kapolsek tidak ada di kantor.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau