Gempa turki

Seorang Bayi Ditemukan Selamat Setelah Terkubur 48 Jam

Kompas.com - 26/10/2011, 03:59 WIB

ercis, selasa - Jumlah korban tewas akibat gempa di Turki terus bertambah. Kantor Perdana Menteri Turki menyebutkan, hingga Selasa (25/10), jumlah korban tewas sudah mencapai 366 orang dan lebih dari 1.300 orang terluka.

Meski demikian, di antara pemandangan pilu jasad para korban yang dimasukkan ke dalam kantong jenazah, kisah-kisah keajaiban bermunculan. Salah satunya adalah penemuan seorang bayi berusia dua minggu yang masih selamat dan sehat setelah terkubur reruntuhan bangunan selama hampir 48 jam.

Televisi Turki menayangkan detik-detik penyelamatan bayi perempuan bernama Azra Karaduman. Ibu bayi tersebut, Semiha, juga masih hidup, tetapi belum dapat dikeluarkan karena terjepit dekat sofa di bawah reruntuhan bangunan di kota Ercis, kota yang paling parah terkena dampak gempa berkekuatan 7,2 skala Richter hari Minggu.

Sebelumnya, tim penyelamat juga berhasil mengeluarkan seorang ibu hamil dan dua anaknya yang masih kecil dari reruntuhan bangunan lain di Ercis. Mereka ditemukan dengan bantuan anjing pelacak.

Di bagian lain kota, yang berjarak sekitar 1.000 kilometer dari ibu kota Turki, Ankara, itu, Oguz Isler (9) juga ditemukan selamat bersama kakaknya, Ela (16), dan sepupunya, Irem (12), setelah terkubur reruntuhan apartemen setinggi lima lantai selama delapan jam.

Isler menceritakan, bangunan apartemen itu runtuh saat ia dan dua saudaranya berada di tangga lantai tiga dalam usaha menyelamatkan diri dari gempa. Sebuah pintu baja jatuh menimpa tubuh Isler. ”Saya jatuh dalam keadaan tengkurap. Saya berusaha keluar dan berhasil membuat celah dengan tangan saya. Tetapi, saya tak bisa bergerak lagi,” tutur Isler, yang masih belum tahu nasib orangtua dan saudara-saudaranya yang lain.

Respons Pemerintah Turki terhadap bencana gempa ini terlihat sangat terkoordinasi karena sudah sangat berpengalaman menangani bencana gempa. Turki terletak di daerah sangat rawan gempa karena berada di atas beberapa patahan kerak bumi. Tahun 1999, dua gempa berkekuatan di atas 7 skala Richter menewaskan tak kurang dari 18.000 orang.

Ratusan tim penyelamat dari seluruh Turki langsung dimobilisasi ke daerah bencana, sementara Bulan Sabit Merah Turki langsung mendirikan ratusan tenda darurat dan dapur umum di dua stadion olahraga di kota Ercis dan Van sebagai tempat penampungan sementara.

Meski demikian, masih banyak korban yang terkubur reruntuhan bangunan dan belum diketahui nasibnya. Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC) menyebutkan, total terdapat 2.256 bangunan—sebagian besar apartemen— yang runtuh. ”Ratusan, atau mungkin ribuan orang masih terperangkap di bawah reruntuhan bangunan,” kata juru bicara IFRC, Jessica Sallabank.

Proses pencarian korban hari Selasa juga diwarnai aksi protes warga terhadap para jurnalis. Mereka melempari para wartawan dan polisi dengan batu setelah seorang penyiar televisi Turki menyebut bencana gempa ini sudah sepantasnya diterima suku Kurdi, yang memberontak terhadap Pemerintah Turki dan membunuh 24 tentara Turki pekan lalu. Mayoritas warga di kawasan pusat bencana berasal dari suku Kurdi ini.

(AP/AFP/Reuters/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau