Gedung sekolah

Plafon Ambrol, Sepuluh Siswa Luka

Kompas.com - 26/10/2011, 04:25 WIB

JAKARTA, kompas - Sebagian plafon eternit Sekolah Dasar Negeri 1, Jalan Utan Kayu Nomor 107, Utan Kayu Utara, Matraman, Jakarta Timur, ambrol dan melukai sekurangnya 10 siswa kelas IV, Selasa (25/10) pagi. Di tempat lain, 160 siswa SDN 13 pagi dan SDN 14 petang di Jalan Pondok Gede, Jakarta Timur, masih belajar di pengungsian karena dua ruang kelas sekolah itu hampir ambruk.

Plafon eternit yang ambrol tersebut berada di ruang kelas IV SDN 1 dengan ukuran 2,5 meter x 6 meter.

Maria Margaretha Florencia Sudin (9), satu dari 10 siswi korban yang ditemui di rumahnya, Jalan Pramuka Baku 1 Nomor 24, RT 11 RW 9, Utan Kayu Utara, menjelaskan, peristiwa berlangsung saat mereka akan berdoa bersama, membuka hari belajar.

Ibu Farida, guru kelas, mengajak anak-anak hening sejenak sebelum berdoa. Namun, tiba-tiba plafon eternit ambrol. Punggung dan kepala Maria tertimpa eternit. Rahang bawahnya terbentur bangku. Bibirnya berdarah tergigit satu giginya yang hampir tanggal.

Karena ketakutan, Maria sempat bengong sebelum akhirnya menangis. Ia hanya terdiam saat tubuhnya tertutup pecahan plafon. Teman-teman Maria lalu menolongnya.

Maria duduk di barisan kedua dari belakang. Di samping Maria ada Khadafi, temannya.

Plafon eternit itu diikat pada rangka plafon yang terbuat dari besi berongga segi empat dengan baut kecil. Selintas melihat orang segera menduga konstruksinya sangat lemah.

”Saya heran, sekolah itu baru selesai direhab beberapa bulan lalu tahun ini,” kata paman Maria, Yessy (32).

Nenek Maria, Yanne (57), khawatir peristiwa serupa bakal terulang bukan hanya di SDN 1, tetapi juga di SDN 3 dan SD 5 yang letaknya tidak jauh dari SDN 1.

”Pemborongnya sama. Rehab di antara ketiga sekolah dilakukan bergantian sehingga proses belajar siswa tidak terhenti. Mereka bisa mengungsi di sekolah lain yang belum direhab,” ujar Yanne.

Masih mengungsi

Sementara itu, meski baru direhabilitasi dengan biaya sekitar Rp 1 miliar, dua tahun lalu, sebagian atap SDN 13 Pagi dan SDN 14 Petang di Jalan Pondok Gede rusak. Kepala SDN 14 Petang Sulijo TP saat ditemui di lokasi mengatakan, karena khawatir atap bakal roboh, 160 siswa diungsikan ke SDN 05 Lubang Buaya di Jalan Yusufiah.

Kepala SDN 13 Pagi Abdul Murtofik menjelaskan, sekolah tersebut direhabilitasi total dengan biaya sekitar Rp 1,25 miliar. Anehnya, kata Sulijo, dua kelas di antaranya tidak direhabilitasi. Kondisi atap kedua kelas itu kini hampir roboh.

”Sebagian kuda- kudanya sudah patah, sedangkan kayu-kayu reng dan kasonya sudah tambal sulam,” tuturnya.

Dari luar, atap gedung sekolah tampak bergelombang ke bawah. Kedua kelas sudah kosong.

”Mereka mulai belajar dalam pengungsian sejak tanggal 1 Oktober lalu hingga sekarang,” tutur Sulijo.

Ia mengatakan, sekolah terdiri atas 10 ruang kelas dengan jumlah siswa pagi dan siang 850 orang. Gedung direhabilitasi pada Oktober sampai Desember 2009.

Ketika direhabilitasi, semua siswa diungsikan ke SMP Negeri 81. Dua ruang kelas yang tidak tersentuh rehabilitasi adalah ruang untuk siswa kelas IA dan siswa IB SDN 14 Petang, serta kelas IIIA dan siswa kelas IIIB pagi.

Murtofik mengaku pernah menanyakan soal dilewatkannya dua kelas dalam rehabilitasi. Jawaban dari instansi adalah dana terbatas. ”Saya enggak tanya lebih lanjut mengenai hal ini karena sibuk memindahkan siswa,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi yang dihubungi terpisah menegaskan, ”Ini tanggung jawab Kasudin Pendidikan Jakarta Timur. Saya akan panggil dia.” (WIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau