JAKARTA, kompas
Plafon eternit yang ambrol tersebut berada di ruang kelas
Maria Margaretha Florencia Sudin (9), satu dari 10 siswi korban yang ditemui di rumahnya, Jalan Pramuka Baku 1 Nomor 24, RT 11 RW 9, Utan Kayu Utara, menjelaskan, peristiwa berlangsung saat mereka akan berdoa bersama, membuka hari belajar.
Ibu Farida, guru kelas, mengajak anak-anak hening sejenak sebelum berdoa. Namun, tiba-tiba plafon eternit ambrol. Punggung dan kepala Maria tertimpa eternit. Rahang bawahnya terbentur bangku. Bibirnya berdarah tergigit satu giginya yang hampir tanggal.
Karena ketakutan, Maria sempat bengong sebelum akhirnya menangis. Ia hanya terdiam saat tubuhnya tertutup pecahan plafon. Teman-teman Maria lalu menolongnya.
Maria duduk di barisan kedua dari belakang. Di samping Maria ada Khadafi, temannya.
Plafon eternit itu diikat pada rangka plafon yang terbuat dari besi berongga segi empat dengan baut kecil. Selintas melihat orang segera menduga konstruksinya sangat lemah.
”Saya heran, sekolah itu baru selesai direhab beberapa bulan lalu tahun ini,” kata paman Maria, Yessy (32).
Nenek Maria, Yanne (57), khawatir peristiwa serupa bakal terulang bukan hanya di SDN 1, tetapi juga di SDN 3 dan SD 5 yang letaknya tidak jauh dari SDN 1.
”Pemborongnya sama. Rehab di antara ketiga sekolah dilakukan bergantian sehingga proses belajar siswa tidak terhenti. Mereka bisa mengungsi di sekolah lain yang belum direhab,” ujar Yanne.
Sementara itu, meski baru direhabilitasi dengan biaya sekitar Rp 1 miliar, dua tahun lalu, sebagian atap SDN 13 Pagi dan SDN 14 Petang di Jalan Pondok Gede rusak. Kepala SDN 14 Petang Sulijo TP saat ditemui di lokasi mengatakan, karena khawatir atap bakal roboh, 160 siswa diungsikan ke SDN 05 Lubang Buaya di Jalan Yusufiah.
Kepala SDN 13 Pagi Abdul Murtofik menjelaskan, sekolah tersebut direhabilitasi total dengan biaya sekitar Rp 1,25 miliar. Anehnya, kata Sulijo, dua kelas di antaranya tidak direhabilitasi. Kondisi atap kedua kelas itu kini hampir roboh.
”Sebagian kuda- kudanya sudah patah, sedangkan kayu-kayu reng dan kasonya sudah tambal sulam,” tuturnya.
Dari luar, atap gedung sekolah tampak bergelombang ke bawah. Kedua kelas sudah kosong.
”Mereka mulai belajar dalam pengungsian sejak tanggal 1 Oktober lalu hingga sekarang,” tutur Sulijo.
Ia mengatakan, sekolah terdiri atas 10 ruang kelas dengan jumlah siswa pagi dan siang 850 orang. Gedung direhabilitasi pada Oktober sampai Desember 2009.
Ketika direhabilitasi, semua siswa diungsikan ke SMP Negeri 81. Dua ruang kelas yang tidak tersentuh rehabilitasi adalah ruang untuk siswa kelas IA dan siswa IB SDN 14 Petang, serta kelas IIIA dan siswa kelas IIIB pagi.
Murtofik mengaku pernah menanyakan soal dilewatkannya dua kelas dalam rehabilitasi. Jawaban dari instansi adalah dana terbatas. ”Saya enggak tanya lebih lanjut mengenai hal ini karena sibuk memindahkan siswa,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi yang dihubungi terpisah menegaskan, ”Ini tanggung jawab Kasudin Pendidikan Jakarta Timur. Saya akan panggil dia.”