Insiden asean fair

Sepeda Ontel dan Minta yang Menghilang...

Kompas.com - 26/10/2011, 04:32 WIB

oleh Ayu Sulistyowati dan Herpin Dewanto

Made Dani (39) dan Made Wiarti (40), hingga Selasa (25/10) sore, tetap tak percaya jika temannya, I Nyoman Minta (65), kakek yang rajin dan baik, harus ditangkap aparat keamanan. Mereka berharap kakek pendiam itu bisa bekerja kembali membersihkan sampah-sampah sekitar Pantai Peninsula, Nusa Dua, Bali, seperti hari-hari sebelumnya. 

Polisi, tentara, dan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), membawa Minta, warga Jalan Taman Ayodya, Banjar Celuk, Kelurahan Benoa, Nusa Dua, usai nyelonong sambil menuntun sepeda ontelnya di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat pembukaan ASEAN Fair 2011, di kawasan itu, Senin lalu. Namun, Minta yang buta huruf itu menghilang hingga kemarin petang setelah menjalani rekonstruksi pada pukul 16.00 Wita, enam jam setelah insiden berlalu.

Tetangga sekitar rumahnya tak ada yang mengetahui di mana Minta. Bahkan, orang-orang yang berada di rumah Minta pun melemparkan aksi tutup mulut dan mengaku tak mengenal siapa itu Nyoman Minta.

”Waduh, tiyang (saya) tidak tahu siapa, ya, Minta. Tiyang setiap hari di rumah saja,” jawab salah satu nenek yang tengah menyiapkan sesaji di rumah Minta.

Rumah Minta sepi. Meskipun ada dua nenek dan seorang remaja di sekitar halaman, mereka tak satu pun mengakui itu rumah Minta. Jalan menuju rumah Minta berbelok, dan dekat pohon asam besar. Namun, wartawan yang datang tak tahu di kamar mana Minta tinggal karena terdapat beberapa kamar mirip kos-kosan. Sepeda ontelnya pun tak terlihat parkir di sudut mana pun rumah itu.

Tetangga Minta mengatakan, biasanya ada istrinya dan dua anak lelakinya di rumah, karena satu anak perempuannya sudah menikah. Ia mengaku hanya mendengar Minta ditangkap, lalu, ia tak tahu lagi bagaimana kelanjutannya, baik Minta dan keluarganya. ”Jika sepi, mungkin mereka memang sedang pergi. Mungkin saja, ada upacara adat di tempat saudaranya yang lain,” kata tetangganya yang mengaku bernama Wayan asal Petang.

Insiden itu menjadi sorotan media cetak, elektronik, dan online. Sejumlah wartawan dibingungkan dengan keberadaan Minta. Komentar-komentar berdatangan yang menyayangkan insiden bisa terjadi persis di depan presiden dan kebetulan menimpa Minta. Semua mendukung pembebasan Minta.

Panglima Kodam IX/Udayana Mayor Jenderal Leonard Louk mengakui, itu kelalaian dan kelengahan anggotanya. Ia pun bakal memberi sanksi.

Kelengahan petugas

Komandan Pasukan Pengamanan Presiden Mayor Jenderal Agus Sutomo mengakui insiden pengendara sepeda Nyoman Minta di Nusa Dua, Bali, disebabkan oleh kelengahan sebagian anggota Pasukan Pengamanan Presiden. Mereka ikut melihat ke atas untuk menyaksikan atraksi akrobatik pesawat terbang sehingga Nyoman Minta lolos dari pengawasan.

”Jadi, kenapa saya bilang anggota lengah karena melihat ke udara, dan bukan melihat ke sekitarnya,” kata Agus, Selasa (25/10), di halaman Wisma Negara.

Menurut Agus, ada 15 materi atraksi yang ditampilkan oleh tim akrobatik udara. Pada materi ketujuh, insiden Nyoman Minta itu terjadi.

Agus menceritakan, Paspamres bertugas mengamankan wilayah di ring 1. Adapun tugas pengamanan di ring 2 dan ring 3 merupakan tanggung jawab aparat TNI/kepolisian wilayah.

Menurut Agus, Nyoman mengendarai sepeda dari wilayah pantai yang merupakan area ring 3. Pria tua itu baru selesai membersihkan pantai dan membawa pulang sejumlah barang di pantai, seperti kelapa, yang dinilai memiliki nilai ekonomis.

Namun, Nyoman bisa lolos melintasi lapangan golf dengan menggunakan sepeda dan akhirnya tiba di area yang merupakan perbatasan antara ring 2 dan ring 1. Akibat kelengahan sebagian anggota Paspampres di ring 1, Nyoman sempat masuk beberapa meter di ring 1. Waktu itu, menurut Agus, anggotanya pun segera bertindak dan mengarahkan Pak Nyoman secara santun.

Nyoman tetap diperiksa oleh polisi. Menurut Agus, berdasarkan hasil pemeriksaan, Pak Nyoman memang selalu melewati rute tersebut setiap kali akan pergi ke pantai dan pulang dari pantai. ”Ia tidak tahu ada acara yang dihadiri Presiden karena keramaian seperti itu cukup sering ditemuinya di kawasan Nusa Dua yang merupakan daerah wisata,” ucap Agus.

Atas insiden itu, Agus mengaku langsung memberi sanksi kepada jajaran di bawahnya yang berpangkat perwira. Namun, ia menolak menjelaskan bentuk sanksi langsung tersebut, yang diberikan saat mengumpulkan jajarannya di Bali Nusa Convention Center.

Setelah itu, Agus menemui Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono di Bandara Ngurah Rai, saat rombongan Presiden akan bertolak kembali ke Jakarta. Bersama Panglima TNI dan Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo, Agus menemui Presiden. Permintaan maaf atas ketidaknyamanan akibat insiden itu disampaikan Panglima TNI kepada Presiden. ”Presiden pertama-tama berpesan agar Pak Nyoman jangan dikasari karena dia adalah orang yang sudah tua,” tutur Agus.

Wayan Sudana, pengawas lapangan Bali Tourism Development Corporation (BTDC) Nusa Dua, membenarkan Minta menjadi pekerja harian di bagian kebersihan pantai. Gajinya Rp 44.000 per hari dan dibayarkan setiap bulan. Sudana mengatakan, Minta sudah setahun bekerja di bagian itu. Jarak rumahnya sekitar tiga kilometer dari gerbang Kawasan BTDC Nusa Dua, tepat di lokasi insiden.

Wayan Suarti, penjual kelontong beberapa meter dari rumah Minta, mengenalnya sebagai warga yang ramah dan pendiam. Minta sering mampir ke warungnya untuk membeli rokok sepulang kerja, yang masih lengkap dengan seragam warna hijau serta sepeda ontelnya yang terkadang penuh mengangkut rumput dan barang bekas.

Hingga matahari tenggelam di Pulau Dewata, kabar keberadaan Minta masih simpang siur. Pesan singkat telepon genggam maupun pesan dari blackberry terus menyala menanyakan kabar terbaru keberadaan Minta serta dukungan agar bebaskan Minta. (ato)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau