Temuan baru

Spesies Baru Laba-laba dari Bukit Menoreh

Kompas.com - 26/10/2011, 16:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Spesies baru laba-laba ditemukan di tiga gua di Pegunungan Menoreh, pegunungan yang membentang di barat laut Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Spesies tersebut ditemukan oleh salah satu penelusur gua bernama Sidiq Harjanto dari Matalabiogama Universitas Gadjah Mada yang tergabung bersama tim penelitian yang dipimpin oleh Cahyo Rahmadi, ilmuwan dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Laba-laba gua yang berwarna putih pucat ini memiliki kaki-kaki yang memanjang dan lebih panjang dibandingkan jenis laba-laba dari luar gua. Selain itu, laba-laba ini memiliki mata yang mengecil dan hanya menyisakan bintik-bintik di bagian depan kepalanya," Cahyo mendeskripsikan spesies baru laba-laba itu.

Menurut penjelasan Cahyo, spesimen pertama dari spesies laba-laba itu ditemukan oleh Sidiq pada tahun 2008. Untuk kepentingan studi taksonomis, akhirnya diambil dua spesimen lagi. Studi tentang spesies ini dilakukan oleh Cahyo yang saat itu berada di Jepang. Untuk menganalisis, ia bekerja sama dengan Dr M Kunter yang merupakan pakar arachnida asal Slovenia dan Dr Jeremy Miller dari Naturalis Museum, Leiden, Belanda.

Hasil studi mengonfirmasi bahwa spesies laba-laba yang ditemukan benar merupakan spesies baru. Dalam waktu dekat, bersama Miller, Cahyo akan memublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal internasional.

Dalam pernyataan yang dikirimkan ke Kompas.com, Rabu (26/10/2011), Cahyo mengatakan, laba-laba gua yang ditemukan termasuk dalam famili Ctenidae dan masuk dalam marga Amauropelma. Penempatan dalam marga tersebut, menurut Cahyo, sebenarnya belum pasti tepat. Namun hingga saat ini, marga itulah yang paling cocok.

Cahyo menjelaskan, Amauropelma merupakan salah satu marga dari famili Ctenidae yang sebaran utamanya ada di Australia. Temuan di Jawa merupakan catatan baru. "Temuan ini membuktikan, gua-gua di karst Jawa merupakan gudangnya jenis baru yang masih memerlukan waktu untuk dieksplorasi dan diungkap kekayaannya," tutur Cahyo.

"Banyak temuan menarik yang saya temukan selama menyusuri gua-gua dari Banteng hingga Tuban, bahkan sampai Pulau Madura," tambah ilmuwan LIPI yang telah menemukan beragam spesies baru tersebut.

Kini, habitat karst terancam oleh pembukaan pabrik semen baru di beberapa kawasan yang secara otomatis akan mengancam spesies-spesies yang ada. Menurut Cahyo, perlu pengelolaan kawasan karst yang baik sehingga potensi biologi, hidrologi, atau lainnya yang tidak dapat dinilai dengan uang bisa dipertahankan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau