BOGOR, KOMPAS -
Korban pertama adalah Siti Riani (41), warga Kebon Pedes, yang hendak berangkat kerja di pabrik konfeksi Samudera Biru di Sukaraja, Kabupaten Bogor, sekitar pukul 06.00.
Siti terbiasa berjalan di rel kereta menuju jalan raya guna menaiki angkutan kota ke pabriknya.
Saat Siti berjalan kaki, dari arah belakang melaju kereta rel listrik (KRL) Bogor menuju Jakarta. Siti kemudian terhempas hingga kepalanya terbentur tembok dan langsung meninggal dunia. Ia meninggalkan tiga anak yang masih berusia belasan tahun.
”Bibi saya enggak lihat ada kereta karena datangnya dari belakang. Mungkin enggak dengar suara kereta karena sedang menggunakan earphone di balik jilbabnya,” tutur Anastasia (29), keponakan Siti.
Sementara itu, korban kedua identitasnya belum diketahui. Jenazah korban berada di kamar mayat Rumah Sakit Palang Merah Indonesia, Kota Bogor.
Korban memiliki ciri-ciri rambut pendek lurus, mengenakan cincin berwarna perak di jari kiri, baju berwarna putih dan celana jins, tinggi badan 140 sentimeter, berat 55 kilogram, dan ada tahi lalat di mata kanan.
Kepala Stasiun Bogor Rochman sudah mendapat laporan adanya kecelakaan yang menewaskan Siti. Namun, ia belum menerima laporan korban kedua. Sebelum kasus ini, selama bulan Oktober ada satu korban tewas di pelintasan KRL.
Menurut Rochman, peristiwa tersebut terjadi akibat belum sterilnya jalur pelintasan KRL dari aktivitas masyarakat seperti disyaratkan oleh undang-undang.
KRL merupakan moda transportasi yang harus mendapat prioritas. Namun, masih banyak warga yang berjalan di tepi rel. Bahkan di dekat Pasar Anyar, pedagang berjualan di pinggir rel. Secara perlahan, hal tersebut akan ditertibkan.
”Kalau benar-benar terpaksa, warga harus betul-betul melihat kiri dan kanan apakah aman atau tidak,” ujar Rochman.