Cuaca buruk

Waspadai Jalur Puting Beliung

Kompas.com - 27/10/2011, 04:34 WIB

Depok, Kompas - Satuan Tugas Banjir Depok mengimbau agar warga yang tinggal di jalur puting beliung waspada. Imbauan dilakukan dengan menyebar pemberitahuan untuk menebang pohon tinggi yang rapuh di dekat permukiman.

Jalur dimaksud adalah wilayah yang biasa terkena dampak puting beliung. Salah satunya ada di Depok bagian barat. Dalam sepekan, belasan bangunan rusak, 50 pohon tumbang, beberapa sarana penunjuk jalan roboh pada saat hujan lebat disertai angin kencang di Depok. Belum ada laporan mengenai korban luka dan meninggal dunia akibat cuaca buruk itu.

”Kepada warga yang tinggal di perlintasan angin puting beliung, silakan menebang pohon tinggi yang rapuh. Keberadaan pohon seperti itu membahayakan pada saat ini,” tutur Kepala Satuan Tugas Banjir, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Depok, Sadar, Rabu (26/10), di Depok.

Sebelumnya, Jumat pekan lalu, 357 rumah rusak akibat puting beliung di Kelurahan Curug, Kecamatan Bojongsari, Depok. Di tempat yang sama, sepuluh rumah rusak karena terjangan angin kencang pada Selasa sore. Sebagian besar kerusakan terjadi di bagian atap karena tidak kuat menahan angin. Imbauan itu amat beralasan karena puting beliung tahun lalu juga terjadi pada bulan Oktober.

Menurut Sadar, bagian barat wilayah Depok sudah lama dikenal sebagai daerah rawan terjadinya angin kencang dan petir. Salah satu penanda bahwa wilayah tersebut rawan adalah adanya kelurahan yang bernama Pondok Petir. Wilayah ini dikenal sebagai tempat terjadinya petir yang membahayakan warga.

Kemarin sore, hujan disertai petir dan angin kencang kembali melanda mulai pukul 15.00 sampai pukul 16.45. Papan penunjuk arah di Jalan Akses UI roboh ke trotoar jalan. Robohnya papan penunjuk arah ini tidak sampai mengganggu lalu lintas. Arus lalu lintas terganggu justru di daerah genangan air, terutama yang menjadi langganan di Jalan Margonda di depan stasiun pengisian bahan bakar untuk umum dekat simpang Jalan Juanda. Genangan serupa terjadi di Terminal Depok.

Hendrik (40), saksi mata yang melihat kejadian tersebut, mengatakan, papan penunjuk arah roboh sekitar pukul 16.00. Saat itu di lokasi sedang hujan lebat disertai angin kencang. Menurut dia, robohnya papan penunjuk arah itu terjadi karena sambungan pelat besi di pangkal tiang tidak kuat.

Papan penunjuk arah itu bertuliskan informasi arah ke kampus Universitas Indonesia dan arah Citayam. Tidak ada korban dalam kasus ini. Sampai Rabu petang, papan berukuran 3 meter x 2 meter dan tinggi tiang 10 meter itu masih tergeletak di tepi jalan.

Amirudin dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) Depok menyiapkan timnya turun ke lokasi bencana. Timnya telah mengevakuasi pohon tumbang di Kecamatan Pancoran Mas, Beji, dan Sukmajaya. Di Pancoran Mas, misalnya, pohon beringin tumbang mengenai kantor kecamatan. ”Imbauan untuk menebang pohon tinggi di sekitar permukiman agar risiko bencana dapat dikurangi,” katanya.

Di Jakarta Selatan dilaporkan sedikitnya tiga pohon tumbang di Lenteng Agung, tepatnya di depan kampus IISIP, Kemang, dan Cilandak. Ketiga pohon tumbang itu menimpa mobil. Di Lenteng Agung, mobil Daihatsu Gran Max rusak ditimpa pohon. Sementara di Kemang, Mitsubishi Pajero juga ringsek. Di Jalan Raya Cilandak dekat Cilandak Mall juga menimpa mobil Toyota Harrier.

Meski rusak, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Kerugian materi masih dalam proses penghitungan Suku Dinas Pertamanan dan Pemakaman Jakarta Selatan. (NDY/NEL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau