Perikanan

Pasar Ikan Patin Lokal Tergerus Impor Ilegal Ikan Patin

Kompas.com - 29/10/2011, 04:26 WIB

Jakarta, Kompas - Pasar patin lokal kian tergerus oleh produk impor ilegal patin. Pengusaha pengolahan patin mengeluhkan belum adanya tindakan optimal untuk membendung masuknya impor patin ilegal asal Vietnam itu.

Direktur PT Indomaguro Tunas Unggul, Tachmid Widiasto Pusoro, di Jakarta, Jumat (28/10), mengemukakan, perusahaan itu menghadapi hambatan dalam memproduksi daging irisan (fillet) ikan patin. Hal itu dipicu merebaknya impor ilegal ikan patin. Saat ini, harga daging irisan patin lokal dengan segmen pasar kelas menengah Rp 40.000-Rp 42.000 per kilogram (kg), sedangkan harga daging irisan patin impor kualitas premium Rp 50.000-Rp 53.000 per kg. Harga ikan patin impor ilegal Rp 43.000 per kg, dengan kualitas bagus, daging lebih putih, dan tidak bau lumpur.

Impor ilegal ikan patin merusak pasar daging irisan ikan patin lokal sehingga kian sulit bersaing dengan daging irisan patin impor. Konsumen daging irisan ikan patin lokal cenderung memilih daging irisan ikan patin impor yang kualitasnya lebih bagus dan harga lebih murah. Kondisi ini pada akhirnya turut berdampak ke pembudidaya patin yang harganya ikut tertekan.

Tachmid menambahkan, kapasitas terpakai perusahaan itu untuk bahan baku ikan patin lokal kini hanya sekitar 5 ton per hari dari total kapasitas terpasang 20 ton per hari. Kuota impor daging irisan ikan patin berkisar 500 ton per enam bulan. Kuota itu baru terpakai sekitar 25 ton.

Kebutuhan impor daging irisan ikan patin impor untuk konsumsi hotel dan restoran 100 ton per bulan. Ikan patin yang diolah menjadi daging irisan menjadi tinggal 35 persen dari bobot awal. Limbah selebihnya, produk kepala dan tulang, laku dijual untuk bahan baku pakan ikan.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Victor Nikijuluw mengakui, Indonesia jauh tertinggal dari Vietnam dalam produksi dan pengolahan ikan patin. Kondisi itu diperburuk dengan maraknya impor patin ilegal ke pasar. Penyelundupan itu melalui jalur perbatasan ke Pontianak, Kalimantan Barat, dan Batam, Kepulauan Riau. Ikan ilegal itu kemudian diterbangkan ke Jakarta.

Menurut Victor, ada dua perusahaan nonpengolahan patin di Jakarta dan Surabaya terindikasi menyelundupkan ikan patin impor. Dikhawatirkan, ikan impor itu dipasok ke pasar lokal sehingga merusak harga patin lokal. (LKT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau