manila, jumat
Tiga rumah di Manila itu ditaksir bernilai total 43,8 juta peso Filipina (sekitar Rp 9 miliar). Jumlah tersebut akan digunakan untuk mengganti uang 10 juta peso Filipina yang diambil secara ilegal oleh keluarga Marcos dari badan pengimpor beras negara pada tahun 1983.
”Ini kemenangan bagi rakyat dan Pemerintah Filipina karena kami berhasil mengembalikan apa yang telah dicuri,” tutur Nick Suarez, juru bicara Komisi Presiden untuk Pemerintahan yang Baik di Manila, Jumat (28/10).
Komisi tersebut telah berjuang sejak 1987—setahun setelah diktator Ferdinand Marcos ditumbangkan demonstrasi rakyat Filipina—untuk mengembalikan uang miliaran peso yang dicuri Marcos dan keluarganya selama 20 tahun berkuasa di Filipina. Sampai hari ini, komisi tersebut mengaku telah berhasil mengembalikan uang negara sebesar 85,64 miliar peso Filipina (Rp 17,7 triliun) dan masih terus memperjuangkan pengembalian sisanya.
Sebuah pengadilan khusus antikorupsi memutuskan April lalu bahwa keluarga Marcos harus mengembalikan semua uang yang diperoleh secara ilegal itu beserta bunganya kepada pemerintah.
Namun, pihak keluarga menyatakan tak mampu membayar jumlah tersebut sehingga pengadilan yang sama pekan ini mengizinkan pemerintah menyita beberapa properti milik keluarga itu.
Juru bicara Imelda belum bisa dihubungi hingga Jumat petang.
Ferdinand Marcos berkuasa sebagai diktator di Filipina pada periode 1965-1986. Selama periode itu, keluarga dan kroni-kroninya dituduh telah mencuri uang negara senilai miliaran dollar AS.
Imelda sendiri waktu itu dikenal memiliki gaya hidup jetset yang serba mewah di saat sebagian besar rakyat Filipina hidup dalam kemiskinan. Koleksi sepatunya mencapai ribuan pasang yang ia tinggal di istana kepresidenan Filipina saat Marcos dan keluarganya melarikan diri ke Hawaii, AS, tahun 1986.
Imelda dan keluarganya kembali ke Filipina setelah Marcos meninggal dunia di pelarian, 28 September 1989.