Korupsi

Pemerintah Filipina Sita Harta Marcos

Kompas.com - 29/10/2011, 04:49 WIB

manila, jumat - Pemerintah Filipina akan menyita tiga rumah milik mantan ibu negara Imelda Marcos untuk mengganti uang negara yang ia gelapkan hampir tiga dasawarsa silam.

Tiga rumah di Manila itu ditaksir bernilai total 43,8 juta peso Filipina (sekitar Rp 9 miliar). Jumlah tersebut akan digunakan untuk mengganti uang 10 juta peso Filipina yang diambil secara ilegal oleh keluarga Marcos dari badan pengimpor beras negara pada tahun 1983.

”Ini kemenangan bagi rakyat dan Pemerintah Filipina karena kami berhasil mengembalikan apa yang telah dicuri,” tutur Nick Suarez, juru bicara Komisi Presiden untuk Pemerintahan yang Baik di Manila, Jumat (28/10).

Komisi tersebut telah berjuang sejak 1987—setahun setelah diktator Ferdinand Marcos ditumbangkan demonstrasi rakyat Filipina—untuk mengembalikan uang miliaran peso yang dicuri Marcos dan keluarganya selama 20 tahun berkuasa di Filipina. Sampai hari ini, komisi tersebut mengaku telah berhasil mengembalikan uang negara sebesar 85,64 miliar peso Filipina (Rp 17,7 triliun) dan masih terus memperjuangkan pengembalian sisanya.

Sebuah pengadilan khusus antikorupsi memutuskan April lalu bahwa keluarga Marcos harus mengembalikan semua uang yang diperoleh secara ilegal itu beserta bunganya kepada pemerintah.

Dituduh mencuri

Namun, pihak keluarga menyatakan tak mampu membayar jumlah tersebut sehingga pengadilan yang sama pekan ini mengizinkan pemerintah menyita beberapa properti milik keluarga itu.

Juru bicara Imelda belum bisa dihubungi hingga Jumat petang.

Ferdinand Marcos berkuasa sebagai diktator di Filipina pada periode 1965-1986. Selama periode itu, keluarga dan kroni-kroninya dituduh telah mencuri uang negara senilai miliaran dollar AS.

Imelda sendiri waktu itu dikenal memiliki gaya hidup jetset yang serba mewah di saat sebagian besar rakyat Filipina hidup dalam kemiskinan. Koleksi sepatunya mencapai ribuan pasang yang ia tinggal di istana kepresidenan Filipina saat Marcos dan keluarganya melarikan diri ke Hawaii, AS, tahun 1986.

Imelda dan keluarganya kembali ke Filipina setelah Marcos meninggal dunia di pelarian, 28 September 1989. (AFP/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau