MEDAN, KOMPAS.com — Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishak mengakui, pihaknya banyak mendapatkan usulan dari kader, termasuk yang berada di daerah, agar partai politik itu keluar dari koalisi. Hal itu dikatakan Luthfi seusai rapat kerja wilayah Dewan Pimpinan Wilayah PKS Sumut di Medan, Minggu (30/10/2011).
"Persentasenya saya tidak hafal, tetapi cukup signifikan," kata Luthfi.
Menurut Luthfi, pihaknya telah menampung seluruh aspirasi politik dan dinamika dari kader PKS terkait reshuffle yang dilakukan Presiden Yudhoyono tersebut.
"Seluruh aspirasi tersebut telah dirangkum dan diserahkan ke Majelis Syuro PKS untuk menentukan sikap politik dalam koalisi," katanya.
Luthfi mengungkapkan, pihaknya akan menaati keputusan Majelis Syuro jika memutuskan PKS keluar dari koalisi yang telah dibentuk dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II ataupun memutuskan sebaliknya. Menurut dia, banyaknya usulan agar keluar dari koalisi karena PKS dinilai tidak mendapatkan banyak manfaat dari mitra politiknya.
PKS, kata Luthfi, justru pernah meraih kejayaan ketika tidak ikut dalam koalisi pada pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Setelah memutuskan untuk tidak ikut koalisi, PKS mampu meraih 45 kursi di DPR pada Pemilu 2004 atau mengalami peningkatan dibandingkan dengan Pemilu 1999 yang hanya mendapatkan tujuh kursi. Namun, ketika PKS ikut terlibat koalisi dalam KIB pertama, parpol tersebut hanya mendapatkan 57 kursi pada Pemilu 2009.
"Hanya meningkat 12 kursi. Jadi, wajar kalau ada yang mengusulkan keluar dari koalisi," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang