Korupsi

Tepat, Moratorium Remisi bagi Koruptor

Kompas.com - 31/10/2011, 01:52 WIB

BANJARMASIN, KOMPAS - Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas, Padang, Saldi Isra menilai, penghentian sementara atau moratorium pemberian remisi bagi para koruptor dan teroris adalah salah satu kebijakan tepat meskipun hal itu terlambat.

”Kalau itu (remisi) dihapuskan, hukuman terhadap koruptor bisa optimal,” ujar Saldi Isra seusai menjadi pembahas dalam bedah buku Indonesia Optimis dan Cerita di Balik Berita karya Denny Indrayana, Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (29/10).

Hadir sebagai pembahas adalah Bambang Widjojanto, calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Hadin Muhjad, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.

Menurut Saldi, keberadaan kebijakan moratorium pemberian remisi lebih baik terlambat dibandingkan tidak sama sekali. Hal itu dilakukan sembari menganalisis, menelaah, dan mencari kekurangan pada peraturan untuk kemudian disempurnakan.

Denny mengatakan, kebijakan moratorium sudah diputuskan sejak Amir Syamsuddin dilantik menjadi menteri dan dirinya menjadi wakil menteri. Kriteria koruptor yang bisa mendapat remisi, menurut Denny, sedang dikaji. Namun, pelaku tertentu yang bekerja sama dengan penegak hukum (justice collaborator)—memberikan informasi kepada KPK—bisa mendapatkan remisi.

”Apakah (remisi) sama sekali tidak ada? Tetap ada, tetapi peluangnya sangat terbatas. Misalnya, Agus Condro (dalam kasus cek perjalanan), kami beri remisi dan bebas bersyarat karena dia adalah pelaku yang bekerja sama dengan KPK,” ujarnya. ”Menangkap pelaku pada kasus korupsi tanpa ada informasi dari pelaku lain itu sulit kecuali mereka tertangkap tangan,” ujar Denny.

(WER)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau