Umumnya Pelaku "Bullying" Anak Orang Kaya

Kompas.com - 31/10/2011, 16:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Terkait dengan kasus bullying yang terjadi di SMA Negeri 70 Jakarta, Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengusulkan adanya program khusus untuk meningkatkan kepekaan sosial pada para siswa. Mengingat sebagian besar pelaku bullying tersebut adalah anak-anak orang kaya.

"Coba saja diteliti anak-anak yang suka bullying, biasanya anak-anak orang kaya," kata Prijanto di Balaikota Jakarta, Senin (31/10/2011).

Sebelumnya, dia sudah berdiskusi dengan Kepala Dinas Pendidikan DKI Taufik Yudhi Mulyanto mengenai masalah ini. Prijanto mengusulkan program sosial dan harus ada pembinaan yang intensif terhadap siswa.

"Coba adakan program untuk mengunjungi tempat-tempat orang yang kurang mampu supaya anak-anak sekolah ini punya rasa empati terhadap sesama," ujar Prijanto.

Dengan kegiatan semacam itu, siswa diharapkan dapat memahami bahwa terhadap sesama apalagi terhadap yunior di sekolah harus tetap bersikap baik. Tindakan bullying yang dilakukan senior terhadap yunior ini hanya akan meninggalkan trauma dan menjadi tradisi karena merasa perlu melakukan hal yang serupa terhadap generasi berikutnya.

"Mata rantai seperti itu harus diputus. Biar anak-anak ini melihat kehidupan di luar dan orang-orang yang kesusahan agar mereka berpikir ulang untuk melakukan aksi bullying," kata Prijanto.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau