Teroris Pilih Bom Buku karena Lebih Murah

Kompas.com - 31/10/2011, 18:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kelompok pelaku bom buku pimpinan Pepi Fernando dibentuk sejak Maret 2010. Awalnya, kelompok ini bertemu saat bergabung bersama jemaah Negara Islam Indonesia wilayah Bekasi pada akhir 2007.

Karena menginginkan cara berjihad dengan perang, Pepi kemudian memisahkan diri dari jemaah NII. Pepi berencana mengajari anak buahnya, yaitu terdakwa Firman, Watono, Nanon, Darto, Wari, Febri, Ahmad, Toib, Hendrik, dan Juni Kurniawan, untuk belajar menggunakan senjata api.

Kelompok itu urung menggunakan senjata api karena harganya mahal. Mereka kemudian membuat bom rakitan.

Hal ini terungkap dalam dakwaan kepada salah satu pelaku bom buku, Muhamad Maulana Sani alias Alan alias Hasab, di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Senin (31/10/2011). "April tahun 2010, Pepi Fernando kembali ke Aceh untuk mencari tempat melakukan pelatihan dengan senjata api. Namun, karena jihad dengan senjata api dirasa mahal, akhirnya Pepi mengumpulkan kelompoknya dan mengatakan jihad kelompoknya dengan bom," ujar anggota tim jaksa penuntut umum (JPU), Izam Zan, saat membaca dakwaan kepada Maulana di ruang sidang.

Sejak saat itu, kelompok Pepi mulai merakit bom dengan bahan-bahan murah dan mudah didapat. Pepi dan kelompoknya sempat membuat bom roket dengan bahan pipa, pupuk urea KNO3, dan arang. Tak disebutkan untuk apa bom itu dirakit.

Selain itu, mereka juga membuat bom termos air yang terdiri dari pupuk, baterai, dan batu korek api. Bom itu rencananya dipasang di wilayah Cawang, Jakarta Timur, saat rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melintas.

"Pada awal 2011, kelompok Pepi merencanakan pengeboman lebih lanjut. Di rumah pelaku Hendi di Parung (Bogor, Jawa Barat), Pepi membawa enam buah buku tebal berwarna putih dengan lubang di tengahnya terdapat kabel, baterai, dan stop kontak. Pepi menyebut buku itu sebagai sampel bom buku," jelas JPU.

Bom buku kemudian disebar di beberapa tempat seperti di Jalan Utan Kayu 68 yang ditujukan kepada tokoh pluralisme dan politisi Demokrat, Ulil Abshar Abdalah. Selain itu, bom serupa juga diberikan pada Kepala Badan Narkotika Nasional Goris Mere, rumah penyanyi terkenal Ahmad Dhani, dan rumah Ketua Umum Partai Patriot Yapto S Soeryosumarno.

Setelah praktik bom buku dilaksanakan, Pepi kemudian memunculkan ide bom tabung gas. Rencana itu ia sampaikan kepada kelompoknya pada 26 Maret 2011 di tempat pemancingan samping Kantor Wali Kota Jakarta Timur. Ia menyampaikan mengenai bom di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Tangerang Selatan, dan persiapan pembuatan bom tabung gas 3 kg di sebuah gereja untuk pengalihan isu bom buku.

Pepi juga meminta Maulana untuk menyediakan bubuk berwarna hitam seberat 3 kg sebagai bahan peledak dengan menggunakan karbit seukuran 20 kg. Berbagai aksi bom rakitan kelompok Pepi ini dilakukan untuk menunjukkan kepada dunia internasional mengenai aksi teror bom di Indonesia yang disiarkan langsung melalui televisi Aljazirah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau