SURABAYA, KOMPAS.com — Jemaah haji kelompok terbang (kloter) terakhir dari embarkasi Surabaya yang berangkat ke tanah suci Mekkah, Senin (30/10/2011) malam, hanya terdiri atas 392 orang.
Para jemaah haji tersebut berasal dari Pamekasan 60 orang, Malang (136 orang), dan dari Surabaya 196 orang.
"Kloter terakhir meninggalkan Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Senin pukul 20.10 WIB dan mereka dijadwalkan mengudara (take off) di Bandara Juanda, Surabaya, pukul 22.00 WIB," kata Wakil Sekretaris I Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya, Drs H Sutarno P.
Didampingi Kepala Humas PPIH Embarkasi Surabaya, H Fatchul Arief, ia menjelaskan, hingga kloter terakhir embarkasi Surabaya itu terbang ke Tanah Suci, tercatat open seat (kursi kosong) hampir satu kloter (450 orang), yakni 408 orang dengan berbagai sebab.
"Ada ratusan calon haji yang tertunda berangkat, ada calon haji yang mutasi ke daerah lain, dan penyebab lainnya. Calon haji yang tertunda berangkat juga disebabkan berbagai hal, di antaranya sakit, meninggal dunia, dan sebagainya," katanya.
Menurut Fatchul, PPIH Embarkasi Surabaya semula dijadwalkan melayani 90 kloter jemaah haji, tetapi akibat penambahan kuota haji untuk keempat provinsi yang dilayani PPIH Embarkasi Surabaya (Jatim, Bali, NTB, NTT) maka jumlah kloter bertambah dua kloter.
"Untuk kloter 91 berisi 419 calon haji yakni 111 calon haji dari Provinsi Bali, 291 calon haji dari Provinsi NTB, dan 17 calon haji dari Surabaya (Jatim), namun calon haji dari NTB tidak masuk asrama haji, melainkan mereka menunggu di lokasi transit di Bandara Juanda Surabaya," katanya.
Untuk penerbangan pada hari terakhir, Senin ini, ungkap Fatchul, tercatat empat kloter, yakni 89, 90, 91, dan 92. "Kloter 89 berisi 450 calon haji semuanya dari NTT, sedangkan kloter 90 berisi 298 calon haji dari NTT dan 147 calon haji dari Surabaya (Jatim).”
Data yang terkumpul di Pusat Pengolah Data PPIH Embarkasi Surabaya, tercatat tujuh jemaah haji yang masih terbaring sakit di RSU Haji Surabaya dengan berbagai macam penyakit yang diderita.
Sumber: Antara
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang