Hamas Sambut Keanggotaan Palestina di UNESCO

Kompas.com - 01/11/2011, 08:17 WIB

DAMASKUS, KOMPAS.com - Gerakan Islam Hamas yang bermarkas di Damaskus Senin (31/10/2011) menyambut keputusan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) untuk memberikan keanggotaan penuh Palestina dalam organisasi itu.

Keputusan itu merupakan "langkah penting dalam mendukung perjuangan Palestina yang akan membantu melindungi tempat suci dan warisan Palestina dalam menghadapi Zionis, bagi warisan kita dan kuil-kuil, terutama Masjid Aqsha serta Yerusalem," kata Hamas dalam satu pernyataan yang diperoleh Xinhua di Damaskus.

Otoritas Nasional Palestina (PNA) memenangkan keanggotaan penuh dalam pemungutan suara Senin pada konferensi umum organisasi di Paris.

Sebanyak 107 negara anggota memilih untuk menerima pengajuan keanggotaan Palestina, sementara 14 negara, termasuk Amerika Serikat dan Israel, memberikan suara menentang.

Pemungutan suara dalam mendukung Palestina oleh sebagian besar negara jelas "menunjukkan kesadaran masyarakat internasional tentang keadilan bagi bangsa kita, juga karena skandal-skandal kebrutalan pendudukan serta bias dari pemerintah AS atas persoalan itu, selain kebijakan rasisnya," kata Hamas.

Gerakan ini juga mendesak semua organisasi PBB untuk menekan Israel menghentikan pelanggaran atas tempat-tempat suci Kristen dan Muslim.

Anggota politbiro Hamas, Izzat Rishq, memuji keputusan UNESCO dalam satu pernyataan sebagai "refleksi nyata dari posisi masyarakat internasional" yang mendukung perjuangan rakyat Palestina dan dengan sasaran yang sah.

Dia mengutuk sikap Amerika Serikat, yang katanya "selalu mendukung Israel," dan mendesak masyarakat internasional untuk membantu rakyat Palestina dalam mencapai hak-hak sah mereka, terutama pembentukan satu negara merdeka dan hak-hak para pengungsi untuk kembali ke tanah airnya.

Pemerintah AS mengatakan keputusan UNESCO itu "prematur" dan kemudian mengumumkan Senin, bahwa mereka telah menahan dana untuk organisasi dunia itu setelah pemungutan suara.

"Hari ini suara di UNESCO mengakui Otoritas (Nasional) Palestina sebagai anggota adalah terlalu dini dan melemahkan tujuan masyarakat internasional bersama perdamaian yang menyeluruh, adil dan abadi di Timur Tengah," kata juru bicara Gedung Putih Jay Carney.

Pemungutan suara Senin dilakukan UNESCO, badan PBB pertama untuk menerima PNA sebagai anggota penuh sejak Presiden Palestina Mahmud Abbas mengajukan permohonan untuk keanggotaan PBB secara resmi di Majelis Umum PBB pada 23 September.

Dewan Keamanan PBB telah memutuskan untuk membahas masalah itu pada November. Sebelumnya, pada Oktober, Dewan Eksekutif UNESCO merekomendasikan menerima Palestina sebagai anggota penuh dan sepakat untuk memilih pada masalah itu dalam konferensi umum ke-26 organisasi, yang dibuka di Paris pada 25 Oktober dan akan berlangsung sampai 10 November.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau