SAMPIT, KOMPAS.com - Ribuan ton rotan milik petani di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, terancam membusuk karena tidak ada pembelinya.
Ketua perkumpulan petani, pekerja dan pengumpul rotan Kabupaten Kotawaringin Timur, Dahlan Ismail di Sampit, Selasa (1/11/2011) mengatakan, para pengumpul rotan sejak Jumat (28/10/2011) tidak berani lagi membeli hasil panen rotan petani, hal itu terjadi karena mereka takut merugi sebab rotan tersebut tidak boleh lagi di ekspor ke luar negeri.
Ketakutan para pengumpul rotan di Kotawaringin Timur tersebut akibat adanya larangan ekspor rotan asalan dan setengah jadi oleh Menteri Perdagangan RI. Saat ini sekitar 5.000 ton lebih rotan siap ekspor tertumpuk di gudang penyimpanan.
Kerugian besar juga dialami oleh ribuan petani rotan di Kabupaten Kotawaringin Timur, sebab sebagian dari mereka sudah terlanjur memanen rotannya dan sekarang tidak laju dijual karena pembelinya tidak ada.
Selain petani, ribuan pekerja rotan juga kehilangan pekerjaan dan sekarang menganggur karena tidak ada lagi rotan yang harus mereka bersihkan.
Menurut Dahlan, pemerintah pusat dalam hal ini Menteri Perdagangan diminta untuk mencabut larangan ekspor rotan asalan dan setengah jadi ke luar negeri, sebab kebijakan tersebut tidak berpihak kepada petani rotan.
"Dengan menghentikan ekspor rotan pemerintah sama saja dengan membunuh petani, pekerja dan pengumpul rotan. Untuk itu kami harap Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono (SBY) untuk membuat kebijakan khusus agar masyarakat petani yang menggantungkan hidupnya dari rotan tidak mati kelaparan," katanya.
Ekspor rotan asalan dan setengah jadi boleh saja ditutup, namun industri dalam negeri harus menampung semua produksi rotan milik petani dan harnganya juga harus kompetitip.
Kotawaringin Timur merupakan salah satu daerah di Kalimantan Tengah (Kalteng) penghasil rotan yang cukup tinggi, sebab 60 persen penduduknya adalah petani rotan dan dalam satu bulan mampu memproduksi rotan 1.000 ton.
Selama ini industri dalam negeri tidak mampu menampung seluruh rotan hasil panen petani dan dari 1.000 ton per bulan tersebut yang terserap hanya 200 ton saja, dan masih ada 800 ton yang tidak tertampung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang