Krisis

Referendum Yunani Bikin Pasar Saham Turun

Kompas.com - 01/11/2011, 19:28 WIB

KOMPAS.com - Paket penghematan bakal mendapat tentangan keras dari rakyat Yunani. Padahal, paket itu menjadi salah satu syarat bagi Yunani untuk memperoleh bantuan finansial.

Ini yang terjadi di Yunani sebagaimana warta AP dan AFP pada Selasa (1/11/2011). Pemerintah mengumumkan akan menggelar referendum tersebut. Alhasil, pasar dunia pun turun usai pengumuman itu.

Indeks FTSE di bursa London diperdagangkan dengan penurunan nilai mencapai 2,5 persen. Sementara di Frankfurt indeks Dax turun 3,8 persen. Lalu, Cac-40 di Paris mengalami penurunan 3,3 persen.

Sebelumnya di pasar Asia, dua indeks utama juga turun. Nikkei di Tokyo melorot sebesar 1,7 persen. Selanjutnya, Hang Seng turun sampai 2,5 persen.

Beberapa waktu lalu, jajak pendapat di Yunani memperkirakan sebagian besar warga Yunani tidak mendukung paket penghematan yang menjadi syarat bagi bantuan tersebut.

Sementara itu, Perdana Menteri Yunani George Papandreou, kemarin, sudah menegaskan kepada parlemen bahwa rakyat Yunani yang akan memutuskan tentang bantuan tersebut. "Kita memiliki tugas untuk memberi prioritas dan menggarisbawahi peran serta tanggung jawab rakyat dengan memperlihatkan secara praktis tidak hanya rasa hormat kita tapi juga pemikiran mendasar bahwa rakyat adalah sumber dari kekuatan dan keberadaan kita," kata Papandreou di depan para anggota parlemen.

"Hal itu, rekan-sekan sekalian, adalah referendum," tutur Papandreou di depan parlemen.

Diperkirakan referendum baru bisa digelar pada Januari tahun depan. Alhasil, jeda waktu itu akan menciptakan ketidakpastian di pasar selama beberapa bulan mendatang.

100 miliar euro

Pekan lalu para pemimpin negara pengguna mata uang euro sudah sepakat untuk menyalurkan bantuan sebesar 100 miliar euro atau sekitar 140 miliar dollar AS untuk Athena dan menghapuskan 50 persen utangnya.

Namun, bantuan itu baru akan dicairkan jika Yunani menempun langkah-langkah pengetatan ekonomi lebih lanjut -yang ditentang oleh sejumlah warga Yunani dengan gelombang aksi unjuk rasa.

Langkah pengetatan yang harus ditempuh pemerintah Yunani antara lain pemotongan gaji bagi bagi pekerja sektor layanan umum, peningkatan pajak, dan pengurangan pensiun.

Sementara, keputusan untuk menggelar referendum ini mengangkat keraguan apakah kesepakatan bantuan itu bisa diwujudkan atau tidak. Jika memang hasilnya kelak menentang langkah pengetatan, ada kekhawatiran hal tersebut akan menndorong Yunani pada situasi gagal bayar.

Beberapa pihak juga melihat referendum ini sebagai referendum atas penggunaan mata uang euro, yang bisa membawa dampak politik bagi kesatuan negara-negara pengguna mata uang tersebut.

Beberapa rencana pengetatan yang menjadi pembahasan di Yunani adalah sistem promosi dan pembayaran baru untuk sekitar 700.000 pegawai negeri.  Lalu, ada pemotongan gaji di sektor layanan umum dan banyak bonus yang dihapuskan.

Kemudian, sekitar 30.000 pekerja layanan umum diberhentikan sementara. Gaji mereka dipotong 60 persen. Para pekerja itu pun menghadapi pemecatan setelah setahun.

Pemerintah Yunani membuat kebijakan penundaan perundingan gaji. Juga, pensiun bulanan di atas 1.000 euro dipotong 20 persen, lebih rendah dari batas sebelumnya. Batasan bebas pajak diturunkan menjadi 5.000 dari 8.000.
 
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau