Kebakaran Hutan di Riau, 30 Persen di Wilayah Konservasi

Kompas.com - 01/11/2011, 21:50 WIB

PEKANBARU, KOMPAS.com - Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau, Kurnia Rauf, mengatakan, sekitar 30 persen kebakaran hutan di Riau pada tahun ini terjadi di dalam kawasan konservasi.

"Sekitar 30 persen dari sekitar 3.000 titik api yang menjadi indikator kebakaran di Riau berada di kawasan konservasi," kata Kurnia di Pekanbaru, Selasa (1/11/2011).

Menurut dia, titik api atau hotspot hasil pantauan satelit hingga kini menjadi indikator terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah titik api yang terpantau cenderung bertambah.

Namun, ia mengatakan jumlah yang ada masih jauh dari perkiraan titik api pada tahun ini yang mencapai 5.000 titik. "Jumlah titik api yang ada sampai sekarang jauh di bawah perkiraan," katanya.

Menurut dia, jumlah kebakaran lahan dan hutan di Riau pada tahun ini agak berkurang karena faktor cuaca yang sudah memasuki musim hujan. Meski begitu, masalah kebaran hutan dan lahan masih menjadi ancaman yang belum bisa terselesaikan yang kerap kali menimbulkan kerugian bagi masyarakat akibat timbulnya kabut asap.

Karena itu, ia mengatakan pemerintah daerah di Riau juga meminta setiap perusahaan perkebunan kelapa sawit dan industri kehutanan untuk membentuk tim reaksi cepat guna menanggulangi kebakaran lahan dan hutan di sekitar konsesinya.

"Setiap perusahaan harus memiliki tim reaksi cepat penanggulangan kebakaran," ujarnya. Selain itu, ia mengatakan pemerintah juga bersama BBKSDA Riau juga tengah merintis sebuah satuan kerja penanggulangan kebakaran lahan dan hutan di tiap kecamatan di seluruh Riau.

Satuan kerja itu nantinya akan saling berkoordinasi agar memangkas birokrasi dan mempercepat tindakan saat terjadi kebakaran lahan dan hutan.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau, tercatat 256 desa di Provinsi Riau merupakan daerah rawan kebakaran lahan dan hutan karena terletak di daerah yang memiliki lahan gambut dan hutan.

"Satuan kerja itu nantinya juga akan menaungi kelompok masyarakat peduli api yang akan dibentuk di tiap desa," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau