Warga Thailand Marah

Kompas.com - 02/11/2011, 02:08 WIB

Bangkok, Selasa - Otoritas Thailand, Selasa (1/11) di Bangkok, berusaha merendam meluasnya kemarahan para warga korban banjir. Warga marah karena banjir kembali melanda daerah baru. Mereka juga merasa telah dijadikan korban demi melindungi ibu kota dari bencana banjir itu.

Banjir di Thailand dimulai sejak medio Juli lalu. Sebagian besar daerah di tepi palungan Sungai Chao Phraya, mulai dari hulu hingga hilir, termasuk sebagian Bangkok, terendam. Hampir 400 orang tewas akibat terhanyut. Jutaan rumah dan bangunan lain rusak.

Selain itu, sebagian besar sektor vital, mulai dari industri otomotif, elektronik, pengolahan kayu, hingga lahan pertanian, juga hancur. Sekitar 198 industri otomotif dan elektronik di utara Bangkok, yang menampung 90.000 pekerja, tutup. Perdana Menteri Yingluck Shinawatra mengatakan, industri pulih dalam tiga bulan.

Di dalam kota Bangkok, banjir mulai surut dan sebagian besar distrik justru kering setelah pemerintah memasang barikade karung pasir dan tanggul pengaman. Warga di sekitar Bangkok menilai upaya itu merugikan mereka sebab beberapa daerah baru yang sebelumnya kering justru mulai dilanda banjir.

Frustrasi

Warga mulai frustrasi dan marah. Ketegangan meningkat setelah pecah keributan antara warga dan otoritas Bangkok, Senin. Ratusan orang memprotes rumah warga dikorbankan demi menjaga Bangkok tetap kering.

Sekitar 300 orang berkumpul menuntut pembukaan pintu air di distrik Khlong Sam Wa, utara Bangkok. Warga berseteru dengan polisi. Yingluck juga memerintahkan otoritas terkait membuka pintu air sekitar satu meter.

Otoritas Metropolitan Bangkok (BMA) memperingatkan, dengan membuka pintu air, akan menyebabkan bagian kota yang selama ini kering dilanda banjir. Di distrik yang kering itu terdapat juga kawasan industri.

”Kami menentang, tetapi pemerintah telah memerintahkan BMA membuka pintu air. Hampir pasti akan datang lebih banyak air lagi,” kata juru bicara BMA, Jate Sopitpongstorn. ”Banjir bisa mencapai kawasan industri Bang Chan. Kami akan merasakan dampaknya,” katanya.

Ketegangan antara warga dan otoritas Bangkok itu meningkat seiring bencana banjir yang melanda Thailand sejak tiga bulan terakhir. Kemarahan warga di sepanjang tanggul yang melindungi Bangkok terjadi setelah mereka tak berhasil membuka pintu air.

Menyusul kejadian itu, aparat keamanan terus bersiaga di sekitar pintu air. ”Pusat Operasi Bantuan Banjir (FROC) sudah meminta angkatan darat mengirimkan personelnya ke daerah konflik. Sebanyak 200 polisi militer dikirim untuk membantu memperkuat polisi,” kata Menteri Pertahanan Yuthasak Sasiprapa.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan, situasi tetap ”kritis” di sejumlah distrik yang dilanda banjir. Di utara dan barat kota, misalnya, ada daerah dengan tingkat genangan air menaik di atas satu meter. Kawasan itu masih parah meski air di kota Bangkok sudah mulai surut.

Di sektor timur laut Bangkok juga terjadi keributan ketika Yingluck menyerukan perbaikan kebocoran tanggul yang menyebabkan air merembes ke pusat Bangkok. Pusat kota harus bebas dari banjir karena ada ratusan tempat bersejarah, cagar budaya, Istana Utama, dan berbagai atraksi untuk turis.

Bencana banjir telah menjadi ujian besar pertama bagi Yingluck, adik mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, yang digulingkan dalam kudeta tahun 2006. Banyak warga berharap sosoknya bisa memulihkan perpecahan di Thailand.

Penderitaan berkepanjangan di daerah terpencil di sejumlah provinsi di utara, timur, dan barat Bangkok akan menjadi sandungan bagi Yingluck. Di benak warga, mereka dikorbankan demi menjaga agar pusat Bangkok tetap kering. Di bagian utara Bangkok, seperti Pathum Thani dan Ayutthaya, penderitaan belum berakhir. Dua provinsi ini merupakan sentra padi utama Thailand.

Yingluck bertemu dengan kabinet, Selasa, untuk merencanakan pemulihan daerah yang telah menjadi korban banjir. Ia juga mengatakan berusaha keras untuk memulihkan kepercayaan investor. Ia menggaransi bencana banjir tahunan seperti ini tak akan terulang lagi.

Kabinet membahas pemulihan bencana. Menteri Energi Pichai Naripthaphan sebelumnya mengatakan, rekonstruksi membutuhkan dana 900 miliar baht atau sekitar 30 miliar dollar AS, setara Rp 255 triliun.

(AP/AFP/REUTERS/ BANGKOK POST/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau