Banjir di Thailand dimulai sejak medio Juli lalu. Sebagian besar daerah di tepi palungan Sungai Chao Phraya, mulai dari hulu hingga hilir, termasuk sebagian Bangkok, terendam. Hampir 400 orang tewas akibat terhanyut. Jutaan rumah dan bangunan lain rusak.
Selain itu, sebagian besar sektor vital, mulai dari industri otomotif, elektronik, pengolahan kayu, hingga lahan pertanian, juga hancur. Sekitar 198 industri otomotif dan elektronik di utara Bangkok, yang menampung 90.000 pekerja, tutup. Perdana Menteri Yingluck Shinawatra mengatakan, industri pulih dalam tiga bulan.
Di dalam kota Bangkok, banjir mulai surut dan sebagian besar distrik justru kering setelah pemerintah memasang barikade karung pasir dan tanggul pengaman. Warga di sekitar Bangkok menilai upaya itu merugikan mereka sebab beberapa daerah baru yang sebelumnya kering justru mulai dilanda banjir.
Warga mulai frustrasi dan marah. Ketegangan meningkat setelah pecah keributan antara warga dan otoritas Bangkok, Senin. Ratusan orang memprotes rumah warga dikorbankan demi menjaga Bangkok tetap kering.
Sekitar 300 orang berkumpul menuntut pembukaan pintu air di distrik Khlong Sam Wa, utara Bangkok. Warga berseteru dengan polisi. Yingluck juga memerintahkan otoritas terkait membuka pintu air sekitar satu meter.
Otoritas Metropolitan Bangkok (BMA) memperingatkan, dengan membuka pintu air, akan menyebabkan bagian kota yang selama ini kering dilanda banjir. Di distrik yang kering itu terdapat juga kawasan industri.
”Kami menentang, tetapi pemerintah telah memerintahkan BMA membuka pintu air. Hampir pasti akan datang lebih banyak air lagi,” kata juru bicara BMA, Jate Sopitpongstorn. ”Banjir bisa mencapai kawasan industri Bang Chan. Kami akan merasakan dampaknya,” katanya.
Ketegangan antara warga dan otoritas Bangkok itu meningkat seiring bencana banjir yang melanda Thailand sejak tiga bulan terakhir. Kemarahan warga di sepanjang tanggul yang melindungi Bangkok terjadi setelah mereka tak berhasil membuka pintu air.
Menyusul kejadian itu, aparat keamanan terus bersiaga di sekitar pintu air. ”Pusat Operasi Bantuan Banjir (FROC) sudah meminta angkatan darat mengirimkan personelnya ke daerah konflik. Sebanyak 200 polisi militer dikirim untuk membantu memperkuat polisi,” kata Menteri Pertahanan Yuthasak Sasiprapa.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan, situasi tetap ”kritis” di sejumlah distrik yang dilanda banjir. Di utara dan barat kota, misalnya, ada daerah dengan tingkat genangan air menaik di atas satu meter. Kawasan itu masih parah meski air di kota Bangkok sudah mulai surut.
Di sektor timur laut Bangkok juga terjadi keributan ketika Yingluck menyerukan perbaikan kebocoran tanggul yang menyebabkan air merembes ke pusat Bangkok. Pusat kota harus bebas dari banjir karena ada ratusan tempat bersejarah, cagar budaya, Istana Utama, dan berbagai atraksi untuk turis.
Bencana banjir telah menjadi ujian besar pertama bagi Yingluck, adik mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, yang digulingkan dalam kudeta tahun 2006. Banyak warga berharap sosoknya bisa memulihkan perpecahan di Thailand.
Penderitaan berkepanjangan di daerah terpencil di sejumlah provinsi di utara, timur, dan barat Bangkok akan menjadi sandungan bagi Yingluck. Di benak warga, mereka dikorbankan demi menjaga agar pusat Bangkok tetap kering. Di bagian utara Bangkok, seperti Pathum Thani dan Ayutthaya, penderitaan belum berakhir. Dua provinsi ini merupakan sentra padi utama Thailand.
Yingluck bertemu dengan kabinet, Selasa, untuk merencanakan pemulihan daerah yang telah menjadi korban banjir. Ia juga mengatakan berusaha keras untuk memulihkan kepercayaan investor. Ia menggaransi bencana banjir tahunan seperti ini tak akan terulang lagi.
Kabinet membahas pemulihan bencana. Menteri Energi Pichai Naripthaphan sebelumnya mengatakan, rekonstruksi membutuhkan dana 900 miliar baht atau sekitar 30 miliar dollar AS, setara Rp 255 triliun.