Yunani Menyengat Eropa

Kompas.com - 02/11/2011, 02:20 WIB

PARIS, Selasa - Perdana Menteri Yunani George Papandreou meminta pelaksanaan referendum untuk menerima atau tidak paket dana talangan bagi Yunani, Senin (31/10) sore. Langkah ini seperti menyengat dan menghebohkan kawasan zona euro.

Sikap PM Yunani berubah total dari yang sebelumnya selalu memohon untuk ditolong, tetapi mendadak menolak bantuan.

Langkah ini dikhawatirkan akan mengacaukan rencana penyelamatan zona euro dari krisis. Padahal, paket penyelamatan telah dicapai pekan lalu.

Apakah referendum ini akan terjadi atau tidak dan apa hasilnya, Papandreou telah mempertaruhkan kestabilan di zona euro. Langkah PM Yunani ini menambah ketidakpastian politis yang telah terjadi dalam beberapa pekan.

Lepas dari itu, referendum ini dijadwalkan berlangsung pada Jumat pekan ini, bertepatan dengan hari kedua pertemuan tingkat tinggi pemimpin negara anggota G-20.

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy menyerukan penyelenggaraan pertemuan mendadak pada hari Rabu ini di Istana Elysee, Paris. Pertemuan diadakan dengan beberapa menteri keuangan Eropa dan gubernur bank sentral.

Pertemuan itu akan membahas soal kemungkinan terburuk bagi Yunani. Sarkozy juga akan berbicara dengan Kanselir Jerman Angela Merkel melalui telepon.

Pemimpin para menteri keuangan zona euro, Jean-Claude Juncker, mengatakan, jika Yunani mengatakan ”tidak”, negara itu akan bangkrut. ”Papandreou sama sekali tidak menyinggung soal referendum ketika berbicara selama berjam-jam dengan para pemimpin dari zona euro, Kamis lalu di Brussels, Belgia,” katanya lagi.

Pekan lalu, perbankan dan para pemimpin Eropa sudah sepakat perbankan akan menanggung kerugian sebesar 50 persen dari obligasi terbitan Pemerintah Yunani yang mereka miliki.

Mustahil memulihkan

Keputusan ini akan mempersulit atau bahkan mustahil memperbaiki kepercayaan para investor di zona euro. Keinginan Papandreou melakukan referendum juga akan memaksa Bank Sentral Eropa (ECB) terlibat semakin dalam untuk menjaga stabilitas pasar obligasi.

Beban ini semakin berat karena gubernurnya, Mario Draghi, baru saja mengantikan Trichet dan tengah berupaya mengembalikan fungsi bank sentral sebagai penjaga laju inflasi.

Pasar saham Eropa dan AS menanggapi peristiwa ini dengan kecewa. Indeks saham langsung meluncur ketika perdagangan dibuka di Eropa dan AS.

Indeks DAX Jerman turun 6 persen dan indeks Paris turun 5 persen. Bahkan, indeks Italia turun 6,12 persen karena merosotnya saham perbankan. Di New York, indeks Dow Jones turun 2,22 persen pada 10 menit awal perdagangan.

”Keadaan ini jelas akan membuat situasi menjadi tidak terkendali dan membahayakan semua keputusan yang diambil pada 26 Oktober lalu,” ujar Janis Emmanouilidis, peneliti pada European Policy Centre di Brussels.

Di dalam partainya sendiri, Papandreou bahkan mendapat desakan untuk mundur. Dia dianggap telah mengacaukan keanggotaan Yunani di zona euro dengan meminta referendum.

Di sisi lain, Papandreou mendapatkan penolakan juga karena banyak pihak yang tidak sepakat dengan rencana pengetatan anggaran yang diawasi oleh Uni Eropa dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Pemogokan besar-besaran sering terjadi Yunani karena rakyat tidak sepakat dengan rencana pengetatan pemerintah sebagai kompensasi bantuan dari troika, Uni Eropa, ECB, dan IMF.

Aksi mogok sering menjadi brutal dan membahayakan. Padahal, pengetatan anggaran dan reformasi ekonomi merupakan persyaratan yang harus dipenuhi jika Yunani ingin mendapatkan dana talangan dari rekan-rekannya negara anggota zona euro.

Pasar saham Athena juga turun 7,06 persen dan sidang kabinet mendadak dijadwalkan pada Senin sore waktu setempat.

(AP/AFP/Reuters/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau