BANJARMASIN, KOMPAS -
Mereka menilai, kebijakan tersebut kelak hanya menguntungkan industri dan perajin di sektor hilir, terutama Cirebon, Jawa Barat. Sementara itu, pemetik dan pengepul rotan di hulu yang sudah turun-temurun hidup dari rotan bakal merana.
Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 75 pengusaha dan pemetik rotan yang tergabung dalam Asosiasi Rotan Kalimantan Indonesia (ARKI) juga bertemu dan menolak rencana pemerintah tersebut.
”Kami meminta pemerintah memperhatikan masyarakat Kalimantan. Jangan hanya memperhatikan sekelompok orang di Cirebon, Jawa Barat, tetapi mengorbankan tiga pulau, yakni Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera yang menjadi penghasil rotan,” ujar Ketua Umum ARKI Herman Yulius.
ARKI akan menyampaikan aspirasi ke Gubernur Kalteng. Kalteng merupakan salah satu tempat utama penghasil rotan di Kalimantan. Gudangnya berada di Kalsel.
Menurut mereka, banyak konsekuensi yang harus ditanggung apabila ekspor ditutup, salah satunya tenaga kerja yang besar, mencapai 300.000. Penutupan keran ekspor mengancam usaha rotan.
Menurut Herman, setiap bulan produksi bahan baku rotan siap ekspor dari Kalimantan mencapai 3.500 ton. Sementara itu, daya serap Cirebon hanya 700-900 ton. Sejauh ini, rotan yang dipetik berukuran 8-11 milimeter. Rotan seperti itu tidak laku dijual ke pasar lokal. Kalau tidak boleh diekspor, lalu dijual ke mana?” katanya.