Perbaiki Segera Kali Krukut

Kompas.com - 02/11/2011, 03:10 WIB

Jakarta, Kompas - Banjir masih melanda Kampung Pulo, Kelurahan Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (1/11). Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebutkan, selain pembuatan waduk, normalisasi Kali Krukut, yang kini mempunyai lebar 2-3 meter, perlu segera dilakukan.

”Kebutuhan normalisasi sungai mendesak dilakukan,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Berdasarkan data dari BNPB seperti yang dimuat dalam laman resminya, kepadatan penduduk di Daerah Aliran Sungai (DAS) Krukut mencapai 109 orang per hektar, yang menobatkannya menjadi DAS terpadat penduduknya dibandingkan DAS lain di Jabodetabek. Masalah sampah dan sanitasi lingkungan amat besar berujung pada sedimentasi, penyempitan sungai, dan penggunaan lahan di sepanjang bantaran Kali Krukut.

Kemampuan debit Kali Krukut saat ini kurang dari 50 meter kubik per detik, sedangkan saat terjadi banjir debitnya mencapai 150 meter kubik per detik.

”Jadi sudah pasti banjir. Terlebih lagi koefisien limpasan DAS Krukut saat ini sekitar 75 persen. Artinya dari total hujan yang jatuh, sekitar 75 persen curah hujan tersebut menjadi limpasan,” kata Sutopo.

Program normalisasi Kali Krukut, menurut Sutopo, seharusnya dilakukan sepanjang 7,5 kilometer, yang alirannya meliputi 11 kelurahan dari empat kecamatan di Jakarta.

”Kombinasi upaya struktural dan nonstruktural diperlukan. Yang penting adalah bagaimana mengembalikan sungai lebih lebar agar debit sungai kian besar,” kata Sutopo.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, yang mengunjungi Kampung Pulo bersama Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono didampingi Wali Kota Jakarta Selatan Syahrul Effendi, mengatakan, untuk mengantisipasi banjir yang kerap melanda wilayah itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan membuat waduk Kali Krukut.

Lahan untuk waduk yang diperkirakan seluas 1,7 hektar itu sudah dibebaskan seluas 9.007 meter persegi (0,9 hektar).

Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Fadjar Panjaitan menambahkan, saat ini masih ada proyek pembebasan lahan. Pada tahun 2012, pembebasan lahan diupayakan selesai dan pembuatan waduk bisa dimulai.

Setelah semua daerah dibebaskan, akan dibuat sodetan dari Kali Krukut di bagian selatan, lalu air dialirkan ke waduk tersebut. Setelah itu, di sebelah utara waduk akan dibuat sodetan lagi ke Kali Krukut.

Revitalisasi saluran

Guna mengurangi genangan, revitalisasi saluran juga dilakukan di ruas jalan arteri, seperti di sebagian Kecamatan Pesanggrahan, Kebayoran Lama, dan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan di wilayah Kelurahan Kalianyar, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Di Tambora, sejumlah bangunan yang berdiri di atas saluran air akan dibongkar.

Wakil Camat Tambora Ali Maulana mengatakan, normalisasi saluran air dilakukan di Jalan Kalianyar III dan Jalan Kalianyar Raya. Apabila turun hujan deras, di kedua ruas jalan itu sering terjadi genangan. Kelurahan Kalianyar merupakan kawasan permukiman padat. Jika terjadi banjir atau genangan di daerah itu, akan berdampak pada ribuan orang.

”Di Jalan Kalianyar Raya, total tujuh warung dan 24 jembatan dibongkar,” kata Ali. (FRO/NEL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau