Papua

Inilah Keprihatinan Edo Kondologit soal Papua

Kompas.com - 02/11/2011, 07:58 WIB

KOMPAS.com — Pulang ke tanah Papua, penyanyi Edo Kondologit tkdak membawa kabar bahagia, tetapi justru oleh-oleh sedih, kecewa, dan marah. Tiga hari lalu, Edo sempat ke Timika yang tengah bergolak karena pemogokan ribuan buruh PT Freeport Indonesia yang menuntut peningkatan kesejahteraan.

Penyanyi kelahiran Sorong, 5 Agustus 1967, itu wajar merasa sedih, kecewa, dan marah. Di tanah kelahirannya sana, kekerasan seperti tak pernah berhenti. Rakyat Papua hampir selalu menjadi korban dari kekerasan yang terus terjadi.

"Hati saya sedih, kecewa, marah. Campur aduk sebenarnya. Saya ini orang Papua,  tetapi warga negara Indonesia, dan sedih dengan keadaan di tanah saya yang tak kunjung selesai masalahnya. Ternyata akar masalahnya kita sudah tahu, permasalahannya adalah kesejahteraan. Orang Papua itu ingin hidup sejahtera, ingin hidup layak. Bukan muluk-muluk. Mereka bisa cukup makan, anak-anaknya bisa sekolah. Punya rumah yang layak," katanya.

Masih dengan nada kecewa, dia melanjutkan, "Ketika dia (orang Papua) sakit bisa terpenuhi akses kesehatannya. Hal-hal yang dasar. Tapi itu semua enggak terpenuhi setelah sekian lama. Puskesmas kekurangan obat, anak-anak sekolah biayanya mahal. Ekonomi masyarakat enggak jalan. Semua bisa membuat frustrasi. Mau ngajak dialog, pemerintah pusat enggak menerima karena ada kecurigaan bahwa mereka (akan) memisahkan diri," kata Edo menumpahkan unek-uneknya dalam sebuah diskusi soal Papua di Jakarta, kemarin.

Dia pun berpesan kepada pemerintah pusat agar mau duduk bersama lagi. "Ini kan masalah klasik. Kemiskinan ini bukan cuma masalah Papua, tetapi juga masalah orang Indonesia. Cuma Papua ini kan daerah kaya, punya hasil tambang yang luar biasa, tapi miskinnya luar biasa," keluhnya.

"Rakyat Papua tak butuh aparat keamanan, yang dibutuhkan rakyat Papua adalah rasa aman sebagai warga negara untuk bekerja dengan baik, tenang. Polisi kita itu jangan jadi satpam Freeport. Polisi itu alat negara yang digaji uang rakyat, untuk melindungi uang rakyat," kata Edo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau