Yahudi Akan Jadi Minoritas di Israel?

Kompas.com - 02/11/2011, 09:23 WIB

JERUSALEM, KOMPAS.com — Yahudi bisa menjadi etnis minoritas di Israel jika orang Palestina diberikan hak suara dalam  solusi negara tunggal. Israel, negara berpenduduk 7,7 juta orang, secara tradisional merupakan negara mayoritas Yahudi  dengan komposisi etnis kira-kira 75 persen Yahudi dan 20 persen Palestina.

Namun, jika wilayah yang disengketakan di Gaza dan Tepi Barat bergabung menjadi sebuah negera dengan Israel, populasinya akan menjadi lebih dari orang 11 juta orang. Keseimbangan populasi etnisnya pun jadi lebih tipis menjadi sekitar 50 persen Yahudi dan 46 persen Palestina.

Dengan tingkat kelahiran warga Palestina yang jauh melampaui tetangganya (Israel), para ahli mengatakan, mayoritas Yahudi dalam solusi satu negara itu akan dengan cepat terlewati warga Palestina. "Kami punya dua alternatif," kata Profesor Arnon Soffer dari Universitas Haifi kepada CNN, Selasa (1/11/2011).

"Untuk menjaga mayoritas, pemeritahan harus mayoritas Yahudi, itu berarti apartheid. Atau pemilu bebas, yang berarti mayoritas Palestina (akan berkuasa) dan (itu berarti) akhir dari sebuah negara Yahudi."

Masalah itu telah dijuluki sebagai "bom waktu demografi" oleh para pengamat Israel. Kebijakan-kebijakan pemerintah, termasuk imigrasi Yahudi dan pertumbuhan alamiah, sejauh ini mempertahankan mayoritas mereka.

Sementara itu, seorang pejabat Mesir mengatakan, Selasa, Israel setuju untuk membatalkan perluasan operasi militernya di Jalur Gaza. Hal itu dilakukan demi memberi waktu bagi Mesir untuk membujuk faksi-faksi militan Palestina agar menghentikan serangan roket ke Israel selatan.

Jet-jet tempur Israel telah menyasar para penembak roket di Gaza dalam beberapa hari terakhir. Pejabat Mesir mengatakan, Israel juga telah merencanakan operasi yang lebih luas. Pejabat itu mengatakan, Mesir meminta waktu 24 jam untuk mencoba membawa semua faksi ke gencatan senjata informal dan Israel setuju untuk memberikan Kairo waktu sampai sekitar Selasa tengah malam. Pejabat tersebut tidak mau disebutkan namanya karena ia tidak berwenang untuk membahas mediasi Mesir itu. Sementara Kementerian Pertahanan Israel tidak segera memberikan komentar terkait hal itu.

Namun, hari Senin, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan dari podium parlemen Israel bahwa Israel akan melakukan operasi keras dan tegas terhadap mereka yang akan mengancam keamanan negara itu. "Sebuah filosofi keamanan tidak bisa mengandalkan pertahanan semata," kata Netanyahu. "Hal itu juga harus mencakup kemampuan ofensif."

Setidaknya 10 militan dan seorang warga sipil Israel tewas dalam beberapa hari terakhir dalam kekerasan terburuk di daerah itu dalam beberapa bulan ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau