6 Penyebab Pria Ogah Pakai Kondom

Kompas.com - 02/11/2011, 09:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi telah terbukti dapat mencegah kehamilan dan mengurangi risiko penularan Infeksi Menular Seksual (IMS).

Penggunaan karet pengaman ini pun mudah, selain harganya lebih terjangkau  ketimbang jenis kontrasepsi lain. Namun sayang, penggunaan kondom di masyarakat nyatanya masih sangat rendah dibandingkan jenis kontrasepsi lain, yakni kurang dari 10 persen.

Menurut Koordinator Pelayanan Medis Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesiaa (PKBI) DKI Jakarta, Bondan Widjajanto, banyak alasan yang melatarbekangi redupnya popularitas kondom.

Setidaknya ada 6 (enam) alasan mengapa pemakaian kondom di kalangan pria masih minim :

1. Kontrasepsi "hanya untuk perempuan (isteri)"

Selama ini, penggunaan kontrasepsi kerap dibebankan kepada kaum perempuan. Padahal, pria juga mempunyai peran penting dalam mencegah kehamilan dan penularan infeksi penyakit menular seksual. Apalagi jika melihat kenyataan di lapangan bahwa pria sebagai individu yang paling berisiko menularkan penyakit infeksi menular seksual karena perilaku seksual yang cenderung berisiko.

2. Tidak nyaman (sensasi berkurang)

Kebanyakan pria malas menggunakan kondom karena merasa kenikmatan dan sensasi saat berhubungan seksual berkurang. Padahal, desain kondom yang saat ini diproduksi sudah sangat tipis, elastis dan tahan lama sehingga tidak menghilangkan sensitivitas secara keseluruhan.

3. Stigma kondom sebagai alat seks bebas

Tidak benar jika ada anggapan yang mengatakan penggunaan kondom sebagai pendorong seks bebas. Masih adanya anggapan keliru di masyarakat yang berangangapan bahwa penggunaan kondom mendukung seks bebas membuat sosialisasi dan penerapannya tidak berjalan lancar.

4. Kondom gagal cegah kehamilan

Kegagalan kondom dalam pencegahan kehamilan timbul lebih karena pemahaman yang kurang di masyarakat. Kegagalan kondom lebih sering disebabkan pemakaianya yang tidak benar, bukan karena mutu kondom itu sendiri. Beberapa penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, sekitar 30-60 persen pria mengaku selalu menggunakan kondom, tetapi di antara mereka yang menggunakan kondom belum tentu memakainya secara benar.

"Turunnya keefektifan kondom lebih disebabkan pada faktor manusia. Jadi jangan gunakan kuku saat menyobek bungkusnya, jangan taruh di dompet, dan sebelum digunakan harus dilihat dulu kedaluarsanya," kata Bondan saat kunjungan media ke PT. Mitra Rajawali Banjaran, Bandung, Selasa, (1/11/2011).

5. Mudah lepas, pecah atau sobek

Kondom telah diuji dengan ketat di laboratorium. Kondom tergolong produk kesehatan dan pengujiannya berada di bawah Departemen Kesehatan. Pada waktu diproduksi di pabrik pun kondom akan melalui serangkaian pengujian ulang sebelum dikemas. Beberapa studi di AS menunjukkan bahwa angka kondom pecah kurang dari 2 persen.

"Untuk memenuhi Standar Mutu Internasional (ISO 4074) tiap helai kondom yang diproduksi harus melalui uji elektronis, karena itu tidak mudah robek," kata Bondan.

6. Virus HIV dapat menembus kondom

Ada anggapan bahwa kondom mengandung lubang-lubang yang bisa dilalui HIV. Hal ini memang benar kalau kondom terbuat dari bahan alami seperti usus domba. Tetapi kondom jenis itu sudah jarang diproduksi. Kondom lateks, yang lazim ditemukan di pasaran, cukup kuat dan sudah diuji untuk menahan mikro-organisme termasuk sperma dan HIV.

"Kondom memang ada pori tapi sangat kecil sekali. Studi laboratorium membuktikan, bahwa kondom yang terbuat dari lateks sangat kedap untuk mencegah masuknya HIV," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau