Santap Daging Kurban, Waspada Kena GERD!

Kompas.com - 02/11/2011, 10:57 WIB

KOMPAS.com - Menikmati beragam menu berbahan daging adalah salah satu tradisi di hari raya, termasuk Idul Adha atau Idul Kurban yang bakal jatuh pada akhir pekan ini. 

Di Hari Raya Kurban ini, masyarakat muslim merayakannya dengan menyantap daging, baik mereka yang menerima kurban maupun yang memberi daging kurban.

Alhasil, daging biasanya akan melimpah sehingga membuat menu di meja makan dapat didominasi beragam masakan berbahan daging baik itu sapi, kambing atau domba.

Di satu sisi, mengonsumsi daging tentu bermanfaat bagi tubuh karena makanan ini mengandung zat gizi terutama protein serta lemak hewani. Tetapi di sisi lain, konsumsi berlebihan dan waktu (timing) yang kurang tepat justru dapat memberi dampak tidak sehat bagi sistem pencernaan.

Seperti diungkapkan pakar kesehatan pencernaan dari FKUI- RSCM Dr Ari Fahrial Syam Sp.PD, masyarakat sebaiknya tidak mengonsumsi daging kurban secara berlebihan, karena hal ini dapat memicu gangguan pada saluran cerna.

"Berbagai penyakit pencernaan akan tercetuskan setelah kita mengonsumsi daging yang berlebihan, baik ganggguan pada saluran cerna atas maupun gangguan saluran cerna bawah.  Salah satu penyakit yang bisa terinduksi akibat makan lemak yang berlebihan dalam waktu singkat adalah penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)," ungkap Ari dalam emailnya.

Menurut  spesialis penyakit dalam ini, kasus penyakit GERD  ditemukan pada sekitar 20 persen dari kasus pasien dengan sakit maag yang datang menjalani pemeriksaan endoskopi saluran cerna atas, baik di RSCM maupun  rumah sakit Swasta. Penyakit GERD, kata Ari, merupakan penyakit akibat gaya hidup, sehingga kasusnya akan semakin meningkat di masa depan.

Ari menjelaskan, penyakit ini terjadi karena adanya aliran balik isi lambung termasuk asam lambung ke kerongkongan akibat lemahnya klep antara lambung dan kerongkongan. Selain itu, adanya gangguan pengosongan lambung juga memicu timbulnya GERD tersebut.

"Lemak yang berlebihan dapat menyebabkan pengosongan lambung menjadi lambat, dan adanya gangguan pada klep, sehingga isi lambung berbalik arah ke kerongkongan," ungkap Ari.

Beragam gejala biasanya dialami penderita GERD seperti rasa panas pada dada mirip terbakar (heart burn), merasakan sesuatu yang balik arah dari lambung naik ke atas (regurgitasi), dan rasa pahit di mulut. Selain keluhan utama tersebut, pasien dengan GERD bisa merasakan keluhan lain seperti nyeri di ulu hati, kembung, begah dan sering sendawa.

"Pasien biasanya mengira kalau keluhan nyeri dada ini karena masalah jantung. Tetapi sebenarnya karena adanya asam lambung yang kembali arah ke atas tersebut. Selain itu, asam lambung yang naik tersebut juga dapat menginduksi terjadinya sesak nafas, batuk kronis, rhinitis (radang hitung) kronis , radang pita suara (laryngitis) sampai ngilu pada gigi," paparnya.  

Mengonsumsi daging dalam waktu singkat secara berlebihan jelas Ari, dapat menginduksi timbulnya GERD yang mungkin sudah ada sebelumnya. Hal ini dapat diperberat jika daging dimasak dengan santan berlebihan disertai bumbu yang merangsang, asam dan pedas.

Apalagi jika setelah mengonsumsi daging ini langsung tidur, kondisi ini akan memperburuk timbulnya GERD . Karena, hal ini akan menyebabkan makanan yang telah sampai di lambung berbalik arah ke kerongkongan. 

Ari memberikan sejumlah tips agar dapat terhindar dari ancaman GERD, tetapi tetap mengonsumsi daging :

1. Jangan mengonsumsi daging secara berlebihan dalam waktu singkat.

2. Tetap mengonsumsi sayur dan buah-buahan.

3. Hindari konsumsi secara bersamaan antara daging dengan jeroan dari hewan kurban tersebut seperti usus, otak, hati, paru atau limpa.

4. Jangan tidur dalam waktu 2 jam setelah makan. Langsung tidur setelah makan akan memudahkan isi lambung termasuk asam lambung akan berbalik arah kembali ke kerongkongan.

5. Pada pasien yang sudah mengalami GERD, konsumsi daging berlebih dan langsung tidur akan menyebabkan timbulnya panas di dada pada 4 dari 5 kasus GERD.

6. Hindari makanan yang terlalu asam dan pedas. Setelah makan daging, hindari minum kopi, alkohol atau minuman bersoda yang akan memperburuk timbulnya GERD. Selain itu, selama mengkonsumsi daging ini, pasien GERD sebaiknya menghindari makanan yang mengandung coklat dan keju.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau