Polri Tak Ambil Pusing dengan Temuan ICW

Kompas.com - 02/11/2011, 22:05 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepolisian RI tampaknya tidak terusik dengan temuan Indonesia Corruption Watch yang menyebutkan Polri menerima dana sebesar 79,1 juta dollar AS atau setara Rp 711 miliar dari PT Freeport Indonesia. Menurut Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, pihaknya baru bisa melakukan klarifikasi jika data keuangan itu diperoleh langsung tim pengawas internalnya dari Papua, dalam hal ini dari Freeport dan dari Polda Papua.

"Itu kan kata ICW. Kalau kita kan harus jelas resmi. Kita jangan berandai-andai. Soalnya ini kan kita baru lihat dari ICW-nya. Kami kan pejabat publik, jadi harus jelas," tutur Saud di Gedung Humas Polri, Rabu (2/11/2011) malam.

Lagi, ia meminta publik menunggu dan tidak berpolemik terlebih dulu dengan berbagai data dan pernyataan yang berkembang di luar mengenai dana-dana tersebut. "Kita tunggu dulu data dari tim. Saya kira itu secara lengkap nanti setelah tim kerja," sambungnya.

Seperti yang diketahui, menurut ICW dana senilai 79,1 juta dollar AS atau setara Rp 711 miliar untuk kepolisian dari PT Freeport Indonesia itu diberikan sepanjang kurun waktu 2001-2010. Dana itu biaya pengamanan untuk Freeport. Data tersebut diambil dari laporan keuangan PT Freeport Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir.

ICW sendiri belum mengetahui secara pasti ke mana saja dana tersebut dialokasikan oleh kepolisian. Namun, ICW mensinyalir dana itu ilegal dan diduga sebagai suap karena tak ada dasar hukum yang jelas yang mengatur penerimaan dana itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau