Ranjau paku

Relawan Saber Perlu Nyali, Kesederhanaan, dan Kesetiaan

Kompas.com - 03/11/2011, 00:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi Komunitas Saber (Sapu Bersih) Ranjau Paku ternyata menarik simpati banyak warga lain. Selain warga yang memberi bantuan ala kadarnya, sejumlah simpatisan telah menyatakan siap bergabung menjadi anggota Saber.

"Kami harus mempertimbangkan lebih matang. Karena menjadi anggota Komunitas perlu nyali, sederhana, dan loyal," kata Abdul Rohim (42), perintis Komunitas Saber kepada Kompas.com saat ditemui di Kembangan, Jakarta Barat, Rabu ( 2/11/2011 ).

Ia menjelaskan, menjadi relawan pembersih ranjau paku secara langsung berarti menempatkan diri sebagai lawan oknum-oknum penebar paku yang umumnya merupakan sindikat.

Ancaman secara langsung maupun tidak langsung sering mereka alami. Dua kali Rohim mengalami kontak fisik langsung dengan komplotan penabur paku. "Saya selalu waspada mengawasi situasi setiap kali beroperasi," kata ayah empat anak ini. Anggota Saber lain beberapa kali dengan sengaja disenggol pengendara sepeda motor yang mengintimidasi aksi mereka.

Selain itu, nyali dibutuhkan untuk menerobos kepadatan lalu lintas saat membersihkan paku di jalan. "Maklum, pengendara jarang tenggang rasa. Padahal kami bermaksud baik, buat mereka juga," kata Rohim. Tak jarang mendapat makian pengguna jalan lantaran dianggap mengganggu lalu lintas.

Sebab itu, hingga saat ini anggota Komunitas Saber yang berjumlah delapan orang bersama 20-an simpatisan selalu beroperasi bersama-sama. Selain bisa mengurangi ancaman pihak tertentu, aksi bersama itu membantu mereka lebih aman saat beroperasi di jalan. "Ada teman-teman yang mengarahkan lalu lintas dengan lampu lalu lintas, yang lain membersihkan paku," jelas Rohim.

Loyalitas, menurut suami Rohaya ini, dibutuhkan karena apa yang dilakukan mereka merupakan aksi sosial bagi sesama. Keinginan menjadi anggota harus didasari keprihatinan yang sama: maraknya ranjau paku di jalanan Jakarta yang mengancam nyawa warga lain. "Kita ini relawan. Kerja kami sukarela, bukan karena sekarang sudah menjadi sorotan media," kata pria sederhana yang bekerja sebagai sopir sebuah perusahaan swasta.

Karena ini, Rohim bersama ketua komunitas Siswanto lebih selektif dalam merekrut anggota paru. Mereka tidak ingin ada anggota yang sifatnya musiman, ngotot bergabung demi publikasi.

Syarat lain menjadi anggota Komunitas Saber adalah kesederhanaan. Rohim mengaku saat ini banyak pihak yang bersimpati terhadap aksi mereka. Mereka sudah mendapat penghargaan khusus dari Walikota Jakarta Barat H. Burhanuddin. Sang Walikota bahkan menyanggupi menjadi pelindung kominitas. H Burhanuddin juga memberikan bantuan berupa rompi seragam bagi masing-masing anggota. "Saat diwawancarai sebuah stasiun radio, ada dua pendengar yang langsung nyumbang Rp 5 juta," kata Rohim.

Banyak warga lain yang menawarkan bantuan serupa. Untuk menghindari kemungkinan adanya motivasi komersial untuk menjadi anggota, Rohim bersama lima rekannya memutuskan akan merekrut anggota yang berkepribadian sederhana. "Takutnya, keanggotaan bisa disalahgunakan untuk kepentingan pribadi," tandas Rohim.

Kesederhanaan sangat terlihat pada diri Rohim. Ia tidak pernah melihat keterbatasan sarana yang dimilikinya sebagai halangan untuk berkarya. Pria kelahiran 14 Agustus 1969 ini yakin, dalam perjalanan waktu, anggota komunitas akan sanggup memenuhi sarana yang dibutuhkan.

"Belum (terpikir) sampai ke situ," kata Rohim sambil tersenyum saat ditanyai kebutuhan sarana yang diharapkan dari simpatisan.

Sejak awal pria yang saat ini mengontrak petakan di Pendongkelan; Cengkareng Timur ini memang lebih mengandalkan upaya pribadi untuk melakukan aksi sosial. Spirit serupa diharapkan dari para calon anggota Komunitas Saber penyapu ranjau.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau