Pemberantasan korupsi

Tidak Cukup Hanya Andalkan KPK

Kompas.com - 03/11/2011, 05:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Pemberantasan korupsi tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan Komisi Pemberantasan Korupsi. Presiden harus memimpin langsung upaya pemberantasan korupsi dengan cara membenahi birokrasi dan memperketat pengawasan internal untuk mencegah terjadinya korupsi.

”Beban KPK saat ini terlalu berat. Presiden harus terjun langsung. Jika ada pejabat yang korupsi, misalnya, atasannya ikut dipecat. Ini akan efektif karena orang lebih takut dipecat daripada dihukum karena korupsi,” kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, Rabu (2/11/2011), di Jakarta.

Eva Kusuma Sundari, anggota Komisi III DPR, menambahkan, sejumlah fraksi di DPR menginginkan pembenahan strategi pemberantasan korupsi. Caranya, dengan memperkuat pencegahan karena hasil dari upaya represi (penindakan) yang selama ini dilakukan kurang memuaskan. Bahkan, penekanan ke penindakan telah memunculkan rivalitas antara KPK dan aparat penegak hukum lain.

Seusai berbicara dalam diskusi tentang investigasi lintas negara untuk memerangi korupsi di Dubai, Uni Emirat Arab, Selasa malam, Guru Besar Hukum Internasional dari The University of Michigan Law School, Amerika Serikat, Timothy L Dickinson, kepada wartawan Kompas, Tri Agung Kristanto, mengatakan, pemberantasan korupsi di Indonesia saat ini sudah pada jalan yang benar dan semakin menunjukkan kemajuan untuk mendekati terwujudnya pemerintahan yang bersih. Pemberantasan korupsi di Indonesia memang berat karena besarnya tumpukan persoalan yang ditinggalkan pemerintahan rezim Soeharto, selain juga karena korupsi sudah sangat mengakar di masyarakat. Keberhasilan memerangi korupsi jangan dilihat tahun per tahun, tetapi harus dicermati setiap dekade.

Dickinson, yang pernah menjadi konsultan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) dan beberapa kali mengunjungi Indonesia, menilai, upaya pemberantasan korupsi di Indonesia sudah dilakukan serius dan menjadi institusional. ”Kondisi ini harus dihargai,” katanya. (NWO/BIL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau