Orang hilang

Inilah Motif Nadia Kabur dari Rumah

Kompas.com - 04/11/2011, 11:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Motif kepergian Nadia Dwi Rahma alias Dea (22) akhirnya terungkap. Kepada polisi yang memeriksanya, Dea mengaku merasa terbebani karena belum juga berhasil menamatkan kuliahnya di Universitas Trisakti.

"Dia merasa terbebani karena harusnya Oktober ini sudah selesai kuliah. Jadi ada rasa penyesalan kepada orangtua karena dia tidak menyelesaikan kuliah," ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar, Jumat (4/11/2011) di Mapolda Metro Jaya.

Dea tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti semester VIII (sebelumnya disebut semester IX). Seharusnya, pada tahun keempatnya kuliah, Dea sudah bisa menyelesaikan skripsi dan lulus. Namun, memasuki semester VIII, Dea belum bisa mengambil mata kuliah skripsi karena masih harus menyelesaikan beberapa mata kuliah.

Kasat Jatantras Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Helmy Santika mengatakan, Dea takut akan respons ayahnya jika tahu kuliahnya tak mencapai target.

"Ayahnya punya klinik di Karawang dan jarang ketemu Dea. Dia takut kalau misalnya ketahuan, Dea akan langsung dimarahin," kata Helmy.

Akhirnya, Dea pun merencanakan pelarian sejak September 2011. Dia mulai mencari-cari informasi tempat kos di salah satu toko online, Tokobagus.com dan mendapat kos di perumahan Green Wood, Manyaran, Semarang, Jawa Tengah dengan harga Rp 750.000 per bulan.

Berbekal uang kuliah yang diberikan orangtuanya Rp 3 juta, Dea pergi ke Semarang pada 24 Oktober 2011. Dari rumahnya yang terletak di Perumahan Galaxy, Pekayon, Bekasi, Dea pergi menggunakan ojek, bus transjakarta, dan taksi sampai ke Stasiun Gambir.

Di Stasiun Gambir, Dea membeli tiket kereta api kelas eksekutif, KA Sindoro. Dia berangkat dari Gambir pukul 16.45 dan sampai di Stasiun Tawang pukul 23.00. Di stasiun itu, Dea dijemput pemilik kos.

"Selama di Semarang, dia selalu sendirian dan ditemani ibu kos yang masih muda itu," tutur Helmy.

Helmy menjelaskan, pada hari kelima pelariannya, Dea mulai mencari-cari pekerjaan di Semarang untuk mengganti uang kuliah yang dia pakai untuk kabur.

"Dia melamar pekerjaan ke dua tempat, yaitu Garuda Indonesia dan Starbucks, tetapi belum juga berbuah hasil," tutur Helmy.

Pada Kamis (3/11/2011), pelarian Dea di Semarang akhirnya diketahui. Tim Bunuh Culik Polda Metro Jaya menemukan Dea di kamar kosnya seorang diri. Dea langsung diterbangkan ke Jakarta. Ia tiba di Polda Metro Jaya pada pukul 09.00.

Orangtua Dea menyambut anaknya dengan penuh haru. Ibunda Dea, Emy Ismaini, pun tak tahan menahan tangis dan terus merangkul anaknya erat-erat. Dengan ditemukannya Dea, polisi pun menggugurkan laporan dugaan penculikan terhadap Dea.

"Tidak kami proses lagi karena ini terbukti tidak ada unsur pidana," kata Baharudin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau