JAKARTA, KOMPAS.com - Maskapai Emirates menghasilkan laba bersih 225 juta dollar Amerika pada semester pertama tahun keuangan yang berakhir 30 September 2011.
Emirates pun tetap menjadi maskapai dengan pertumbuhan tercepat di dunia dan terus mencetak keuntungan di tengah tidak stabilnya kondisi ekonomi dunia, geopollitik dan lingkungan.
Emirates tetap pada jalur pertumbuhan yang kuat dimana maskapai penerbangan ini terus mengembangkan sayapnya dalam tujuh tahun terakhir yakni dari 60 armada pesawat di 2004 hingga memiliki 161 armada pesawat berbadan lebar saat ini, termasuk 17 armada pesawat A380 dan 95 armada pesawat Boeing 777 terbesar.
Selain itu, pendapatan perusahaan telah meningkat sebesar 20 persen per tahun selama periode waktu yang sama dengan 23 tahun catatan profitabilitas, yang tak tertandingi maskapai lain.
Sejak 2004, Emirates terus bertumbuh. Kini, telah dibuka 39 kantor perwakilan baru dan terbang ke 115 kota tujuan di 67 negara. Emirates juga terus memperluas jaringan globalnya dengan meluncurkan rute baru ke Jenewa, Kopenhagen dan St. Petersburg sejak April 2011 .
Dan, akan melanjutkan perluasan jaringanny a ke delapan rute baru termasuk Baghdad pada 13 Nopember 2011, Rio de Janeiro, Buenos Aires, Harare, Lusaka, Dallas, Seattle dan Dublin pada awal 2012.
"Emirates tetap fokus pada strategi jangka panjangnya meski ada ketidakstabilan dunia serta kenaikan harga bahan bakar yang mengakibatkan Emirates membayar US$1 miliar lebih untuk biaya bahan bakar selama periode yang sama tahun lalu, serta fluktuasi nilai tukar," kata Sheikh Ahmed bin Saeed Al-Maktoum, Chairman and Chief Executive, Emirates & Group, Jumat (4/11/2011) di Dubai.
"Tantangan global selama enam bulan terakhir telah menguji Emirates, dan sekali lagi kami telah berhasil melalui tantangan tersebut dan terus mempertahankan kualitas terbaik akan produk dan layanan kami," kata Sheikh Ahmed.
Pada semester pertama tahun keuangan 2011-2012, Emirates mencatat pertumbuhan bisnis yang kuat, baik dari segi kapasitas yang ditawarkan dan pasokan lalu lintas yang diterbangkan. Kinerja yang sangat kontras dengan tren di seluruh industri penerbangan saat ini.
Kapasitas yang diukur melalui Available Seat Kilometres (ASKM) atau kursi yang tersedia per kilometer yang meningkat 8,2 persen.
Sedangkan layanan penumpang diukur dengan Revenue Passenger Kilometer (RPKM) atau pendapatan penumpang per kilometer, naik 5,7 persen dengan tingkat keterisian kursi yang tinggi dengan rata-rata 79,3 persen meski pertumbuhan kapasitas turun sedikit dibanding semester pertama tahun lalu sebesar 81,2 persen. Volume kargo yang diterbangkan sama dengan tahun lalu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang