Painan, Kompas
Asisten II Pemkab Pesisir Selatan Desri saat dihubungi pada Jumat mengatakan, puluhan bangunan sekolah jenjang SD, SMP, hingga SMA terendam air rata-rata setinggi 1 meter. Dibutuhkan waktu untuk menunggu susutnya air tersebut sekaligus untuk membersihkan lumpur yang menggenangi sekolah.
Ancaman krisis pangan, kata dia, juga mengintai menyusul rusaknya 450 hektar sawah dan 11.163 hektar areal tanaman palawija. Apalagi, pasokan bahan bakar juga berpotensi tersendat karena jalan lintas Sumatera yang menghubungkan Padang-Bengkulu di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan rusak berat.
”Kami hanya punya satu jalan poros karena jalan alternatif tidak bisa dilalui truk,” kata Desri.
Seperti diberitakan, putusnya jalur transportasi Padang-Bengkulu di Nagari Kambang Barat, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, itu disebabkan terjangan air bah pada Kamis. Mengenai enam warga
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pesisir Selatan Ichsanusataruddin menyebutkan, perbaikan jalan lintas Sumatera yang hancur di kawasan Nagari Kambang Barat, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar, butuh waktu lebih dari tiga bulan.
”Jalan alternatif hanya bisa dilewati sepeda motor atau mobil penggerak empat roda. Untuk kendaraan lain, arus lalu lintas harus dialihkan lewat Kabupaten Solok Selatan,” kata Ichsan.
Sementara itu, dari sekitar 52.000 warga yang sebelumnya mengungsi, sebagian besar mulai kembali ke rumah masing-masing untuk melakukan pembersihan. ”Sekarang tinggal 5.000 pengungsi yang bertahan di rumah-rumah tetangga, tempat ibadah, dan sekolah,” kata Desri.
Hingga Jumat siang, masih terdapat sejumlah titik di Kecamatan Lunang Silaut dan Kecamatan Pancung Soal, Kabupaten Pesisir Selatan, yang warganya terisolasi. Desri mengatakan, titik yang terkurung itu masing-masing di kawasan Silaut 5 dan 6 yang berada di Kecamatan Lunang Silaut dengan 2.500 penduduk serta areal perkebunan kelapa sawit PT Incasi Raya di wilayah Kecamatan Lunang Silaut dan Kecamatan Pancung Soal. ”Ada sekitar 850 karyawan perkebunan di sana,” katanya.
Menurut dia, tingginya banjir membuat lokasi itu belum bisa ditembus. Sementara itu, upaya menembus keterisolasian lewat jalur laut juga belum memungkinkan karena gelombang laut tidak bersahabat. Selain bencana banjir dan air bah, sebagian wilayah di Kabupaten Pesisir Selatan juga longsor.
Banjir di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, semakin luas menyusul meluapnya Sungai Selagan. Sekitar 200 keluarga meninggalkan rumah mereka yang terendam air hingga 2 meter. Sebelumnya, Sungai Air Manjunto yang meluap telah merendam 168 rumah di dua desa di Kecamatan Lubuk Pinang.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Mukomuko Jasni Bahari mengatakan, minimnya personel terlatih yang menangani bencana membuat pemerintah daerah kalang kabut mengatasi dampak banjir. ”Kami tidak punya tim reaksi cepat atau taruna siaga bencana,” ujarnya.
Pemkab Mukomuko juga telah menyalurkan bantuan makanan dan tenda darurat bagi pengungsi. Tenaga kesehatan pun sudah siaga di lokasi pengungsian.