Aktivitas Belajar 18.000 Siswa Langsung Lumpuh

Kompas.com - 05/11/2011, 03:10 WIB

Painan, Kompas - Sekitar 18.000 siswa di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, hingga Jumat (4/11) dipastikan tidak bisa belajar menyusul air bah yang melanda daerah itu sehari sebelumnya. Banjir juga meninggalkan lumpur setinggi 40 sentimeter serta mengakibatkan sedikitnya 35 gedung sekolah rusak dan 10.219 rumah warga terendam.

Asisten II Pemkab Pesisir Selatan Desri saat dihubungi pada Jumat mengatakan, puluhan bangunan sekolah jenjang SD, SMP, hingga SMA terendam air rata-rata setinggi 1 meter. Dibutuhkan waktu untuk menunggu susutnya air tersebut sekaligus untuk membersihkan lumpur yang menggenangi sekolah.

Ancaman krisis pangan, kata dia, juga mengintai menyusul rusaknya 450 hektar sawah dan 11.163 hektar areal tanaman palawija. Apalagi, pasokan bahan bakar juga berpotensi tersendat karena jalan lintas Sumatera yang menghubungkan Padang-Bengkulu di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan rusak berat.

”Kami hanya punya satu jalan poros karena jalan alternatif tidak bisa dilalui truk,” kata Desri.

Seperti diberitakan, putusnya jalur transportasi Padang-Bengkulu di Nagari Kambang Barat, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, itu disebabkan terjangan air bah pada Kamis. Mengenai enam warga yang hilang sejak banjir melanda, Desri mengatakan, hingga Jumat siang belum juga ditemukan. Upaya pencarian keenam korban yang diduga hilang karena diseret banjir masih terus berlangsung.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pesisir Selatan Ichsanusataruddin menyebutkan, perbaikan jalan lintas Sumatera yang hancur di kawasan Nagari Kambang Barat, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar, butuh waktu lebih dari tiga bulan.

”Jalan alternatif hanya bisa dilewati sepeda motor atau mobil penggerak empat roda. Untuk kendaraan lain, arus lalu lintas harus dialihkan lewat Kabupaten Solok Selatan,” kata Ichsan.

Sementara itu, dari sekitar 52.000 warga yang sebelumnya mengungsi, sebagian besar mulai kembali ke rumah masing-masing untuk melakukan pembersihan. ”Sekarang tinggal 5.000 pengungsi yang bertahan di rumah-rumah tetangga, tempat ibadah, dan sekolah,” kata Desri.

Masih terkurung

Hingga Jumat siang, masih terdapat sejumlah titik di Kecamatan Lunang Silaut dan Kecamatan Pancung Soal, Kabupaten Pesisir Selatan, yang warganya terisolasi. Desri mengatakan, titik yang terkurung itu masing-masing di kawasan Silaut 5 dan 6 yang berada di Kecamatan Lunang Silaut dengan 2.500 penduduk serta areal perkebunan kelapa sawit PT Incasi Raya di wilayah Kecamatan Lunang Silaut dan Kecamatan Pancung Soal. ”Ada sekitar 850 karyawan perkebunan di sana,” katanya.

Menurut dia, tingginya banjir membuat lokasi itu belum bisa ditembus. Sementara itu, upaya menembus keterisolasian lewat jalur laut juga belum memungkinkan karena gelombang laut tidak bersahabat. Selain bencana banjir dan air bah, sebagian wilayah di Kabupaten Pesisir Selatan juga longsor.

Banjir di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, semakin luas menyusul meluapnya Sungai Selagan. Sekitar 200 keluarga meninggalkan rumah mereka yang terendam air hingga 2 meter. Sebelumnya, Sungai Air Manjunto yang meluap telah merendam 168 rumah di dua desa di Kecamatan Lubuk Pinang.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Mukomuko Jasni Bahari mengatakan, minimnya personel terlatih yang menangani bencana membuat pemerintah daerah kalang kabut mengatasi dampak banjir. ”Kami tidak punya tim reaksi cepat atau taruna siaga bencana,” ujarnya.

Pemkab Mukomuko juga telah menyalurkan bantuan makanan dan tenda darurat bagi pengungsi. Tenaga kesehatan pun sudah siaga di lokasi pengungsian.

(INK/ADH/ACI/WIE/NIK/ODY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau