Kashgar, Kota Sejuta Domba

Kompas.com - 06/11/2011, 22:57 WIB

Para wartawan Indonesia dan Malaysia diajak melihat pusat kerajinan tangan di pusat kota Kashgar, Xinjiang, China, namun saat turun dari kendaraan banyak daging domba sedang digantung dan siap untuk dimasak dan dimakan.

Menyusuri pusat kerajinan tangan di kota Kashgar, selain banyak toko menjual kerajinan tangan dari perak, alat musik Uyghur, baju dan topi berbulu, pisau, dan makanan khas Kasghar, ternyata banyak ditemui orang melakukan transaksi penjualan domba. Juga restoran yang menjual makanan dengan daging domba.

Restoran yang menyajikan daging domba juga tersebar di berbagai sudut kota Kashgar. Di depan restorannya digantung domba yang sudah dikuliti dan siap untuk dimasak. Restoran shabu-shabu ala Tiongkok dan restoran China di hotel pun akan menyajikan daging domba.

"Masyarakat Kashgar yang mayoritas etnis Uyghur dan beragama Islam memang suka makan daging domba. Ada yang dibakar seperti sate, namun tusukannya panjang, mie ada daging domba, sup domba, martabak isinya daging domba, bahkan dinsum di sini pun isinya daging domba," kata Kaderya, pemandu turis kota Kashgar.

Pengaruh Islam

Kegemaran makan daging domba merupakan salah satu budaya masyarakat Kashgar yang dipengaruhi oleh Islam. Bukan itu saja pengaruh Islam di kota yang memiliki peran strategis dalam jalur sutra (silk road). Bahasa dan arsitektur bangunan di kota Kashgar sangat dipengaruhi oleh budaya Islam.

Banyak gedung pertokoan, hotel, restoran dan perkantoran. Pertokoan dan perkantoran selalu menuliskan nama tokonya dengan tiga bahasa sekaligus yakni bahasa Uyghur yang menggunakan huruf Arab gundul, bahasa Mandarin, dan bahasa Inggris (huruf latin). Begitu juga dengan papan penunjuk jalan dan nama jalan dituliskan dalam tiga bahasa tersebut.

Kashgar adalah salah satu kota di propinsi Xinjiang, China, yang berbatasan dengan Kyrgyzstan, Afghanistan dan Pakistan yang memiliki peran strategis dalam jalur sutra – jalur perdagangan China, Asia tengah, hingga Eropa. Kashgar adalah pintu keluar masuk jalur perdagangan China dengan negara-negara Asia Tengah dan Eropa pada masa itu.

Walaupun di bawah pemerintahan Tiongkok dan Partai Komunis China, namun pengaruh budaya Islam sangat kuat di Kashgar. "Rakyat China tidak ada libur pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, namun penduduk  Kashgar libur selama tiga hari," kata imam masjid Idkah, Ilma.

Karena mayoritas penduduknya muslim, pemerintah China memberikan otonomi kepada masyarakat kota Kashgar, dan juga propinsi Xinjiang. "Otonomi yang diberikan kepada kota Kashgar adalah boleh menegakan hukum sesuai dengan adat istiadat masyarakat setempat namun tidak bertentangan dengan UUD pemerintahan Beijing," tambah Ilma.

Oleh sebab itu, muslim di Kashgar boleh merayakan Idul Adha dan libur selama tiga hari. Ada sekolah khusus bahasa Uyghur yang menggunakan huruf Arab. Dan menggunakan huruf Arab pada papan nama perkantoran, restoran, pertokoan dan lain lainnya.

Wisata Islam

Kashgar merupakan salah satu destinasi wisata Islam China yang menarik untuk dikunjungi. Banyak peninggalan sejarah Islam di sana. Misalkan, masjid Idkah, di pusat kota Kashgar yang dibangun tahun 1442 merupakan masjid yang terbesar di China dan mampu menampung 100.000 orang untuk melakukan sholat Idul Fitri dan Idul Adha.

Masjid dan pesanten para ulama besar di Kashgar yang cukup berpengaruh dalam penyebaran Islam di Tiongkok. Tiga ulama besar yakni Mahmud Kashgari Tomb, Yusuf Has Hacib Tomb, dan Xianfei Thomb atau yang lebih dikenal dengan Abakh Hojam Tomb.

Mahmud Kashgari telah mendirikan pusat kajian dan penyebaran Islam sejak abad ke-10 dan membangun kawasan Islamic (pesantren) 48 Km dari kota Kashgar. Ulama ini meningglkan pesantren yang cantik dan menarik untuk dikunjungi.

Ulama Yusuf tidak banyak meninggalkan bangunan sejarah, tapi Abakh Hojam Tomb meninggalkan pesantren, masjid tercantik di China dan kuburan keluarganya dalam sebuah bangunan seperti masjid dengan dinding marmer warna-warni. Lokasinya hanya lima Km dari kota Kashgar.

Banyak turis domestik dari Shanghai, Hongkong Beijing dan turis asing misalkan dari Taiwan, Eropa dan Amerika yang tertarik dengan KotaTua Kashgar. Kota dengan bangunan dan model abad ke-10 masih bertahan, bahkan masih didiami sekitar 10.000 orang atau 2.000 keluarga. Bangunannya masih terbuat dari tanah liat dan rumput (jerami).

"Masyarakat yang tinggal di kota tua ini adalah etnis Uyghur, semuanya beragama Islam. Hingga kini mereka adalah keturunan dari etnis Uyghur yang sudah tinggal ribuan tahun lalu," kata Murod, pemandu wisata kota tua. Arsitektur Islam sangat kental pada rumah-rumah di kota tua itu.

Untuk belanja, wisatawan dapat menikmati pertokoan dan pusat perbelanjaan di Bazzar Kashgar. Pusat pertokoan yang sudah ada sejak 2000 tahun lalu, atau ratusan tahun sebelum Masehi, di mana Kashgar memang merupakan kota yang strategis dan berperan penting dalam jalur sutra. Jalur perdagangan yang menghubungkan China, dengan negara-negara Asia Tengah, hingga ke Eropa. Semua pedagangnya adalah etnis Uyghur yang muslim.

Berbagai produk Kashgar, Pakistan, Afghanistan, Rusia, juga produk dari China dapat dijumpai di Bazzar Kashgar. "Bagi wisatawan Indonesia dan masyarakat muslim lainnya, jangan takut, sebagian besar restoran di sini menyajikan makanan halal," kata Kaderya, pemandu wisata Kashgar.

Namun sayang belum ada penerbangan internasional yang langsung ke kota Kashgar. Hanya satu penerbangan asing yang melayani rute Kashgar – Urumqi – Islamabad – Istambul. Dari Asia Tenggara, wisatawan harus terbang ke Beijing, kemudian ke Urumqi, baru terbang lagi ke Kashgar.

Masalah komunikasi juga sulit. Sangat jarang warga Kashgar bisa berbahasa Inggris. Mereka umumnya menggunakan bahasa Mandarin dan Uyghur. Namun, bagi wisatawan muslim yang mau melihat sejarah Islam di China dan punya tantangan maka Kashgar patut menjadi pilihan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau