Kritik itu disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Komaruddin Hidayat, Ketua Moderate Muslim Society Zuhairi Misrawi, dan Rektor UIN Alauddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Qadir Gassing secara terpisah di Jakarta, Minggu (6/11).
Dalam khotbah Idul Adha yang digelar serempak, Minggu pagi, para khatib banyak menekankan tafsir perayaan Idul Adha sebagai kritik terhadap praktik korupsi. Korupsi merupakan tindakan yang berlawanan dengan semangat korban karena mengorbankan kepentingan umum demi kepentingan diri sendiri.
Menurut Komaruddin, yang menjadi khatib dalam shalat Idul Adha di Kompleks Marinir TNI Angkatan Laut (AL) di Cilandak, Jakarta Selatan, hari raya kurban jelas mengkritik praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Soalnya, perilaku itu hanya menumpuk kekuasaan dan kekayaan bagi diri sendiri, keluarga, atau kelompok. Sementara ajaran berkurban mengutamakan tujuan lebih besar, dalam hal ini kepentingan publik.
Ajaran seperti ini terus dikumandangkan saat perayaan Idul Adha setiap tahun. Sebagian besar elite politik, yang mayoritas Muslim, juga mengikuti khotbah itu. Namun, ajaran antikorupsi itu tidak terserap dalam perilaku nyata dalam kehidupan birokrasi dan pemerintahan. ”Elite politik kita sudah ’ndablek’ sehingga tidak mempan lagi diingatkan oleh ajaran moral agama,” katanya.
Bagi Zuhairi Misrawi, ketekunan elite politik menjalankan ritual agama masih berjarak, bahkan bertolak belakang dengan perilaku di birokrasi dan pemerintahan. Idul Adha masih dianggap sebatas festival yang tidak bisa memengaruhi perilaku nyata sehari-hari.
Banyak tokoh politik menyumbang sapi di masjid-masjid. Namun, perilaku kekuasaan mereka justru berlawanan dengan semangat berkurban karena masih saja menyuburkan perilaku korupsi.
Qadir Gassing, ketika berkhotbah di Masjid Istiqlal, Jakarta, meminta kepala negara, gubernur, bupati, dan seluruh pejabat memberantas korupsi dan segala macam bentuk penyelewengan. Dengan cara itu, rakyat akan mendukung mereka. ”Mulailah dari rumah dan pekaranganmu sendiri,” katanya.
Shalat Id tersebut antara lain dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ny Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono beserta Ny Herawati Boediono, sejumlah menteri, pemimpin lembaga negara, dan pejabat.