Idul Adha Ajarkan Antikorupsi

Kompas.com - 07/11/2011, 02:32 WIB

Jakarta, Kompas - Idul Adha menekankan ajaran moral untuk mengutamakan kepentingan rakyat meski dengan mengorbankan kepentingan pribadi dan kelompok. Namun, meski setiap tahun dirayakan, semangat keagamaan ini belum terserap dalam tindakan nyata elite politik di Indonesia yang justru dibelit masalah korupsi.

Kritik itu disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Komaruddin Hidayat, Ketua Moderate Muslim Society Zuhairi Misrawi, dan Rektor UIN Alauddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Qadir Gassing secara terpisah di Jakarta, Minggu (6/11).

Dalam khotbah Idul Adha yang digelar serempak, Minggu pagi, para khatib banyak menekankan tafsir perayaan Idul Adha sebagai kritik terhadap praktik korupsi. Korupsi merupakan tindakan yang berlawanan dengan semangat korban karena mengorbankan kepentingan umum demi kepentingan diri sendiri.

Menurut Komaruddin, yang menjadi khatib dalam shalat Idul Adha di Kompleks Marinir TNI Angkatan Laut (AL) di Cilandak, Jakarta Selatan, hari raya kurban jelas mengkritik praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Soalnya, perilaku itu hanya menumpuk kekuasaan dan kekayaan bagi diri sendiri, keluarga, atau kelompok. Sementara ajaran berkurban mengutamakan tujuan lebih besar, dalam hal ini kepentingan publik.

Ajaran seperti ini terus dikumandangkan saat perayaan Idul Adha setiap tahun. Sebagian besar elite politik, yang mayoritas Muslim, juga mengikuti khotbah itu. Namun, ajaran antikorupsi itu tidak terserap dalam perilaku nyata dalam kehidupan birokrasi dan pemerintahan. ”Elite politik kita sudah ’ndablek’ sehingga tidak mempan lagi diingatkan oleh ajaran moral agama,” katanya.

Bagi Zuhairi Misrawi, ketekunan elite politik menjalankan ritual agama masih berjarak, bahkan bertolak belakang dengan perilaku di birokrasi dan pemerintahan. Idul Adha masih dianggap sebatas festival yang tidak bisa memengaruhi perilaku nyata sehari-hari.

Banyak tokoh politik menyumbang sapi di masjid-masjid. Namun, perilaku kekuasaan mereka justru berlawanan dengan semangat berkurban karena masih saja menyuburkan perilaku korupsi.

Qadir Gassing, ketika berkhotbah di Masjid Istiqlal, Jakarta, meminta kepala negara, gubernur, bupati, dan seluruh pejabat memberantas korupsi dan segala macam bentuk penyelewengan. Dengan cara itu, rakyat akan mendukung mereka. ”Mulailah dari rumah dan pekaranganmu sendiri,” katanya.

Shalat Id tersebut antara lain dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ny Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono beserta Ny Herawati Boediono, sejumlah menteri, pemimpin lembaga negara, dan pejabat. (iam/ato)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau