Jajak pendapat kompas

Nasionalisme Minus Kepahlawanan

Kompas.com - 07/11/2011, 02:34 WIB

YOHAN WAHYU

Antusiasme menumbuhkan gairah kebangsaan saat ini tetap meluap di kalangan masyarakat. Sayangnya, nada kegairahan ini tidak diikuti tampilnya sosok ataupun jiwa kepahlawanan yang diharapkan.

Hal tersebut tecermin dari penilaian sebagian besar responden (75,7 persen) jajak pendapat Kompas yang menyebut pemimpin saat ini, elite politik, lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompoknya, padahal rakyat mengharap sebaliknya.

Sejumlah kasus korupsi yang menyeret elite politik, seperti suap proyek wisma atlet, dugaan korupsi di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Pendidikan Nasional, dugaan makelar anggaran di DPR, dan sejumlah korupsi kepala daerah, menjadi potret betapa elite lebih kemaruk dengan kekuasaan dibandingkan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan rakyat.

Penilaian responden tentang kadar kepahlawanan yang dimiliki penyelenggara negara menunjukkan, lagi-lagi lembaga legislatif (DPR) dinilai paling rendah komitmennya untuk lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Sebanyak 82,4 persen responden menyatakan itu.

Saat ini, yang paling banyak diharapkan publik adalah bagaimana penyelenggara negara ini, terutama elite politik, memperhatikan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat. Separuh bagian responden (52,4 persen) menyebutkan pengabdian untuk rakyat, bangsa, dan negara menjadi kriteria penting untuk mengukur sejauh mana kualitas kepahlawanan itu. Pentingnya indikator ini tidak lepas dari sikap responden yang menilai semakin langkanya sosok ”kepahlawanan” yang dimaksud.

Separuh bagian responden berharap sikap kepahlawanan, yang direfleksikan dengan sikap rela berkorban itu, lebih ditujukan untuk memerangi kemiskinan. Memberantas kemiskinan dipandang sebagai indikator penting tantangan kesejahteraan rakyat yang harus diselesaikan para penyelenggara negara.

Dampak kebijakan

Rendahnya kadar kepahlawanan elite penyelenggara negara secara tidak langsung memengaruhi narasi kebangsaan yang selama 66 tahun dipertahankan. Menguatnya sikap meminggirkan kepentingan bangsa akan berdampak buruk pada imaji tentang bangunan nasionalisme negeri ini.

Nasionalisme dipahami sebagai sebuah kesetiaan tertinggi individu yang diserahkan sepenuhnya kepada negara dan bangsa. Sebelum lahir paham ini, kesetiaan ditujukan kepada berbagai bentuk kekuasaan sosial, organisasi politik, dan kesatuan ideologis atau etnis.

Ironisnya, yang terjadi akhir-akhir ini, rasa nasionalisme terkalahkan oleh sentimen-sentimen kedaerahan, kelompok, bahkan sentimen keagamaan. Berbagai gejolak separatisme, seperti di Papua, dan kasus anarkisme atas nama agama menjadi ancaman yang menggoyang bangunan nasionalisme negeri ini.

Fakta-fakta tersebut diakui sebagian besar responden (69,9 persen) dalam survei ini sebagai indikasi melemahnya jiwa kepahlawanan dan rasa nasionalisme. Kebijakan negara yang justru memperlemah rasa nasionalisme juga bukan tak mungkin terjadi. Lihat saja bagaimana pemerintah menjalankan otonomi khusus Papua, yang dampaknya justru menuai tuntutan bernada separatisme rakyat Papua.

Terlepas pihak mana yang sebenarnya ”paling bersalah” meminggirkan harkat rakyat Papua selama 40 tahun ini, sangat besar proporsi responden (83,4 persen) yang menilai kondisi ini akan merongrong nasionalisme dan keutuhan bangsa.

Penilaian yang sama dialamatkan publik dalam kasus konflik regulasi Pilkada Aceh. Ketidakmampuan pemerintah mengidentifikasi persoalan utama dan menjalankan kebijakan yang jelas akan memengaruhi kondisi sosial politik dan perdamaian Aceh yang sudah dirajut.

Ancaman tergerusnya rasa nasionalisme dan jiwa kepahlawanan bukan berarti tidak disadari, baik oleh elite maupun publik. Sejumlah momentum nasional tampak menjadi media menumbuhkan rasa kebangsaan itu. Tengok saja antusiasme publik mendukung batik sebagai warisan budaya dunia dan kebanggaan Indonesia, atau lihatlah antusiasme sejumlah kalangan saat menyaksikan kebangkitan tim nasional sepak bola mengalahkan tim negara lain.

Hal yang sama terjadi pada upaya Indonesia menggalang dukungan bagi Pulau Komodo sebagai salah satu keajaiban dunia. Meskipun muncul polemik soal keabsahan lembaga penyelenggara, sebanyak 62,7 persen responden menilai antusiasme dukungan adalah wujud dari rasa kebangsaan yang terus hidup di negeri ini.

Sejumlah fakta ini menjadi bukti kuat betapa besarnya animo publik terhadap pentingnya membangkitkan kembali rasa kebangsaan. Benedict Anderson dalam Imagined Communities (1983) menyebutkan, bangsa adalah suatu komunitas politik yang terbatas dan berdaulat yang dibayangkan. Suatu bangsa dapat terbentuk jika sejumlah warga dalam suatu komunitas mau menetapkan diri sebagai suatu bangsa yang mereka angankan atau bayangkan.

Meminjam pendekatan Anderson, rasanya benih-benih kesadaran publik terhadap rasa kebangsaan masih kuat mengakar. Hanya saja, bangsa yang dibayangkan tidak hanya dibangun oleh antusiasme kebangsaan, tetapi harus dikuatkan juga oleh perekat hadirnya komitmen dari penyelenggara negara itu sendiri. (LITBANG KOMPAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau